Persiapan 74 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Bumi Indonesia lahir dan berkembang melalui tangan-tangan perjuangan yang tak pernah kenal lelah, diperjuangkan dengan darah semangat gotong royong. Kemerdekaan Indonesia bukanlah kemerdekaan yang diberi oleh penjajah! Bukan kompensasi atas kerjasama dengan penjajah! Tapi Bangsa ini merdeka atas semangat perjuangan tokoh-tokoh proklamator, semangat pemuda-pemudi yang bosan dengan melaratnya bangsa dijajah ratusan tahun oleh penjajah, Bung Karno pun pernah berucap “Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”

 

Detik-detik waktu pun mulai berdentang semakin lantang ketika pertambahan umur Indonesia terasa semakin dekat. Menandakan bahwa pantasnya bangsa ini tidak lagi bisa dilabeli dengan label negara berkembang. Sudah semestinya negara yang sangat kaya akan hasil perut bumi berupa sumber daya alam maupun sumber daya manusia ini melesat jauh menandingi negara-negara yang mewakili negara bagian dunia pertama.

 

Keanekaragaman kekayaan alam maupun budaya sudah seharusnya menjadikan Indonesia sebagai condong kiblat kemajuan sebuah negara. Bagaimana tidak, semua ada di Indonesia, mulai dari ekonomi yang harusnya sudah kuat ditopang dengan segala macam sandang pangan hasil kayanya perut bumi Nusantara, hingga budaya masyarakatnya yang terkenal dengan keramah tamahannya.

 

Tidak hanya terkenal mempunyai banyak kekayaan alam, Indonesia pun terkenal dengan beraneka ragamnya permasalahan yang melingkupinya, politik sara, kriminalitas, korupsi, agama, hingga kebakaran hutan dan lahan yang santer diberitakan akhir-akhir ini. Isu ini seakan menjadi pemecah persatuan yang susah payah dirajut oleh pahlawan bangsa terdahulu. Tak pelak ini menjadikan Indonesia lengah dengan permasalahan yang lebih urgent sehingga seakan membuat Indonesia hanya jalan ditempat dengan ditemani sekelumit masalah kompleks yang seharusnya pun bisa dihindari.

 

Sebut saja pertumbuhan ekonomi maupun infrastruktur Indonesia yang saat ini kebanyakan ditopang dari hasil hutang luar negeri, termasuk masalah kontroversi pro dan kontra terkait pemindahan Ibu kota Negara yang memakan banyak pengeluaran negara, impor yang membludak yang sebenarnya bisa diberdayakan oleh produk kebutuhan domestik seakan menambah angka-angka pengeluaran kas negara.

 

Hilir kian mengalir bak gayung yang harus siap disambut, pecahan-pecahan permasalahan yang condong membuat kegaduhan serta kontroversi seperti itu harusnya disambut oleh pemerintah dengan bentuk penyelesaian yang tegas tidak bertele-tele. Karena Indonesia sedang dihadapkan pada mode zaman kemajuan yang sangat dituntut untuk mampu bersaing dengan negara-negara lainnya di segala sektor.

 

Kesejahteraan menjadi sorotan beberapa waktu yang lalu dimana Indonesia berhasil meningkat secara ranking. Tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia dinilai meningkat hingga berhasil masuk ke jajaran lima besar indeks kesejahteraan global. Angka ini naik dibandingkan tahun lalu, Indonesia berada di urutan ke-14. Ini merupakan hasil survei perusahaan penyedia jasa kesehatan Cigna Corporation. Dalam Survei Skor Kesejahteraan 360 berisi persepsi kesejahteraan masyarakat di 22 negara. Dalam survei global yang dilakukan awal 2019 terhadap 13.200 responden itu, kesejahteraan yang disurvei mengacu pada lima pilar utama yakni fisik, keluarga, sosial, keuangan, dan pekerjaan.

 

Walaupun demikian adannya, tak lantas membuat kita berbesar hati dan lupa dengan hakikat yang sebenarnya bahwa yang terpenting adalah kenyataan di lapangan apakah benar demikian masyarakat kita sejahtera secara layak dan patut? Ini menjadi point penting PR bagi pemerintah supaya lebih fokus terhadap penyejahteraan masyarakat melalui perbaikan perekonomian, sosial, budaya, dan sistem perpolitikan di negara kita.

 

Meraup keuntungan dari kemerdekaan yang hakiki

 

Polarisasi yang cenderung lambat statis dalam peningkatan kesejahteraan serta kelayakan Indonesia menjadi negara yang maju ditenggarai sebagai faktor penting lambatnya Sang Macan Asia terbangun dari tidurnya. Indonesia sangat butuh dengan gebrakan-gebrakan bersifat pembaharuan yang berani untuk lebih sigap menyongsong kemajuan negara-negara dunia.

 

Dalam hal ini sangat penting kiranya bagi anak muda untuk lebih mengambil perannya sebagai alur perubahan dalam penerus pembangunan di Indonesia, para generasi muda diharapkan mampu mengakses segala bentuk perubahan yang mendunia dengan segala ide-ide cemerlang yang imajinatif dalam proses pembangunan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

 

Sikap kritis anak muda Indonesia akan memberikan masukan demi masukan yang bersifat membangun dan membuat Indonesia lebih maju. Serta sifat generasi muda yang lebih peka terhadap permasalahan bangsa tentunya akan sangat bermanfaat sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah tentang permasalahan bangsa yang lebih urgent saat ini.

 

Karena Indonesia tidak akan pernah maju jika ide-ide tersebut hanya tersimpan di kepala saja, maka dari itu inovasi penggerak ide-ide tersebut harusnya bisa dicermati oleh pemerintah, terlebih Indonesia menjadi sorotan dunia dengan segala perkembangannya saat ini.

 

Kita tahu di negara-negara maju masyarakatnya mempunyai karakter keingintahuan yang sangat tinggi dan selalu ingin belajar serta tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada. Sehendaknya ini pun diterapkan oleh masyarakat di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Meskipun di era teknologi yang serba ada saat sekarang ini yang kita tahu banyak membuat lalai masyarakat termasuk kawula muda, alangkah lebih baiknya ini dijadikan sebagai peluang untuk meraih kemajuan yang diimpi-impikan masyarakat Indonesia.

 

Maka dari itu, sudah pantaskah Indonesia dinyatakan benar-benar bisa meraih kemerdekaannya di tahun yang ke 74 ini? Dengan melirik semua aspek pembangunan sosial perekonomian masyarakatnya yang kian diterpa berbagai masalah, layakkah Bangsa ini terbebas dari belenggu penjajahan melawan bangsanya sendiri sebagaimana ucap Bung Karno dahulu?

 

Kontribusi aktif antara pemerintah yang membuat kebijakan dan masyarakat yang merasakan kebijakan sangat dibutuhkan. Peran aktif dan partisipasi masyarakat dalam bentuk pemikiran dan aspek-aspek penting lainnya yang dikategorikan sebagai faktor kemajuan suatu bangsa sangat diutamakan kebutuhannya untuk dinamika kenegaraan yang terus menatap kemajuan dengan memperbaiki permasalahan yang ada pada masyarakatnya

 

Inipun selaras dengan pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyatakan tiga kunci utama memajukan Indonesia adalah adanya pemerintahan yang bersih dan tegas, teknologi dan ilmu pengetahuan yang dikuasai bangsa, serta sektor kewirausahaan yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Representatif yang mewakili pernyataan tersebut hendaknya lebih diperhatikan pemerintah beserta masyarakat, karena bagaimanapun kemajuan sebuah bangsa salah satunya terletak kepada bagaimana bangsa tersebut mampu menyejahterakan kehidupan masyarakatnya.

 

Jangan hanya seperti kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta yang diberi oleh pemerintah sudah semestinya dibalas dengan cinta oleh masyarakatnya. Karena Indonesia adalah milik bersama, membangunnya pun harus bersama-sama. Pertambahan umur kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi akan memasuki tahun ke 74 ini hendaknya dijadikan momentum kebangkitan pembangunan, baik itu sumber daya manusianya maupun aspek-aspek pembangunan lainnya. Dengan disertai langkah aktif negara bersama warga negaranya, ini akan membuat Indonesia lebih percaya diri untuk memerdekakan diri dari segala bentuk problematika yang sedang dihadapinya. Karena sejarah telah membuktikan bahwa kemerdekaan hanya bisa diraih melalui persatuan dan kesatuan serta harmoni dalam kebersamaan kemajuan.

 

Penulis : Viggo Pratama Putra

Jurusan : Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara/ Universitas Negeri Padang.

Jabatan : Wakil Presiden WPPSP (Wadah Pejuang Penegak Solusi Politik).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NONE

swarakaltara.com