Merawat Pemikiran Melalui Literasi

Merawat Pemikiran Melalui Literasi

SWARAKALTARA.COM – Dunia sedang dibawah ombang-ambing globalisasi yang mengubah wajah peradaban dengan begitu pesat. Pencanangan segala macam era dicantumkan begitu banyak, mulai dari era millenial, pengenalan generasi Z, hingga era revolusi 4.0 yang begitu sering diperbincangkan akhir-akhir ini. Tak jarang sering terjadi kompetisi agar bisa menguasai pangsa-pangsa yang memang dibutuhkan di era perkembangan teknologi digital seperti saat sekarang ini. Suka atau tidak suka, perubahan yang terjadi pasti memiliki dampak terhadap gaya hidup maupun pola pikir setiap individu dalam menjalani kegiatannya sehari-hari.

Individu ataupun suatu golongan telah banyak meninggalkan berbagai cara pemikiran kolot yang dahulu dilakukan namun tidak lagi relevan dengan waktu sekarang. Seperti halnya dahulu orang berkomunikasi jarak jauh dengan surat sekarang sudah memakai handphone. Dulu orang-orang berpikir bagaimana menciptakan sekarang pola pikir bagaimana mengembangkan. Pola pikir berubah mengikuti perkembangan zaman. Namun terkadang disanalah tantangan yang begitu besar hadir menghampiri pemikiran setiap orang. Banyak orang yang cenderung lebih suka bermalas-malasan, munculnya kecenderungan mengutamakan kepentingan terhadap diri sendiri di atas kepentingan bersama, memudarkan sikap solidaritas dan kesetiakawanan sosial, musyawarah mufakat, gotong royong, dan banyaknya generasi muda yang sudah melupakan para pejuang serta jati diri bangsanya dengan fenomena baru, yaitu lebih mengenal dan mengidolakan artis, bintang film, dan pemain sepak bola asing yang ditiru dengan segala macam aksesorisnya, hingga banyaknya masyarakat yang sudah acuh tak acuh terhadap ideologi atau falsafah negaranya. Mereka sudah tidak tertarik lagi untuk membahasnya bahkan lebih cenderung bersifat kritis dalam operasionalnya dengan cara membanding-bandingkan dengan ideologi lain yang dianggap lebih baik dan tentu hal ini akan memantik datangnya isu-isu radikal yang mengancam disintegrasi kebangsaan kita sendiri.

Tentu tantangan semacam itu membutuhkan proteksi yang baik dalam memfilter setiap perkembangan maupun perubahan yang terjadi sehingga pola pikir tidak salah arahan dan tidak salah kaprah. Dalam perjalanannya, setiap penyakit pasti ada obatnya, begitu juga pemikiran yang dangkal atau kurang cakap menerima perubahan yang merupakan penyakit dan tentu akan mempengaruhi gaya hidup. Dan yang menjadi obatnya ialah budaya literasi, Literasi secara sederhana diartikan sebagai keberaksaraan. Dalam perkembangannya, literasi bukan hanya diidentikkan dengan kemampuan calistung, tetapi juga pada aspek yang lain seperti kemampuan memilih serta memilah informasi, berkomunikasi, dan bersosialisasi dalam masyarakat. UNESCO pada tahun 2003 menyatakan bahwa “Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis. Literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.”

Di dalam pasal 1 ayat (4) Undang-undang nomor 3 Tahun 2017 tentang Perbukuan juga dibunyikan bahwa: “Literasi adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.” Walau pengertian literasi sudah berkembang, aktivitas membaca dan menulis merupakan hal yang paling mendasar dalam literasi. Mengapa demikian? Karena dalam memilih dan memilah informasi tentunya dilakukan dengan membaca. Dan aktivitas membaca hanya dapat dilakukan jika ada bacaan yang notabene merupakan karya para penulis. Dan sekarang ini sudah banyak objek studi yang membahas tentang literasi, bahkan berhubungan dengan studi budaya dan berhubungan dengan dunia sosial. Seperti yang kita tahu bahwa budaya dan bahasa itu suatu kesatuan yang tidak pernah terpisahkan. Semakin tinggi literasi di suatu negara, maka semakin bagus budaya di negara tersebut. Contohnya ciri negara yang memiliki literasi yang tinggi itu dapat menjadikan lingkungannya lebih baik, terbebas dari sampah, dan nyaman. Dengan adanya ciri lingkungan seperti itu terbentuk karena adanya apresiasi masyarakat sosial yang baik. Masyarakat mampu bekerja sama satu sama lain, dan itu membuktikan hubungan antara literasi, budaya dan dunia sosial.

Setiap orang pasti mempunyai potensi dan kemampuan di dalam dirinya. Potensi itu dapat dikembangkan oleh diri kita sendiri serta doronngan literasi akan sangat membantu dalam mendorong pengembangkan potensi dalam diri kita. Contohnya literasi dalam menulis, seseorang itu memiliki kemampuan atau potensi dalam menulis. Literasi mampu membantu mengembangkan potensi menulis tersebut dengan memproduksi dan mereproduksi ilmu pengetahuan. Dengan adanya ilmu pengetahuan mampu mengembangkan potensi menulis. Tidak hanya itu, dalam era kompetitif dunia luar seseorang harus mampu bersaing dengan ketat. Bila ada seseorang yang takut bersaing dengan dunia luar berarti ia tidak mau maju dan berkembang. Begitu pula dengan dunia literasi. Literasi dalam hal ini tergantung dua hal yaitu penguasaan teknologi informasi, dan penguasaan pengetahuan yang tinggi. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang hidup dizaman modern tidak boleh tertinggal dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat.

Namun yang juga menjadi tantangan ataupun persoalan yaitu tingkat minat baca yang begitu rendah di Indonesia, Penelitian yang dilakukan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2016 terhadap 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah. Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama “The World’s Most Literate Nations”, menunjukan Indonesia berada di peringkat ke-60, hanya satu tingkat di atas Botswana. Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah sebagai ranah eksekutor maupun masyarakat sebagai objek yang dituju. Bentuk solutif yang dapat ditawar ialah menciptakan era literasi semenjak diri, salah satunya dari masa- masa sekolah yang mempunyai cara untuk membangun literasi dengan adanya perpustakaan yang dapat menunjang siswa-siswi sebagai upaya  mengembangkan kemampuan membaca. Begitu pula dengan adanya mading sekolah untuk mengembangkan kemampuan menulis peserta didik. Dalam proses belajar mengajar, guru juga tidak terlepas melatih peserta didik untuk berfikir inovatif, kreatif, dan aktif. Serta ditunjang dengan bacaan yang dapat menjadikan peserta didik memiliki budaya literasi yang tinggi. Sebab bila memiliki literasi yang tinggi dapat menjadikan negar ini maju dan berkembang dan pastinya dapat bersaing dangan dunia luar dalam sektor pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial.

Karena pada hakikatnya, perubahan harus digandengkan dengan kesiapsiagaan terhadap segala sesuatunnya. Karena dalam perubahan pasti ada yang namanya impact positif maupun negatif. Dengan menghadirkan literasi dalam upaya merawat pemikiran sehingga pola pikir terjaga serta siap menghadapi perubahan, akan menciptakan ruangan yang memfilter setiap pengaruh yang masuk. Budaya literasi sejatinya harus ditanamkan semenjak sedini mungkin agar generasi-generasi bangsa kedepan dapat menjadi generasi yang memang benar-benar mampu mencerdaskan kehidupan bangsanya sehingga kita mampu berkompetisi serta menghadirkan sikap kolaborasi demi kemajuan bersama. Tidak sampai disitu, upaya-upaya memecah belah persatuan bangsa melalui isu-isu radikal juga dapat diminimalisir karena sikap kritis dalam berpikir yang diterapkan tiap individu maupun kelompok. Dengan menghidupkan kembali sarana-sarana diskusi aktif, membuka wawasan melalui bacaan maupun menulis, niscaya bangsa Indonesia akan mengembara ibaratkan kapal kokoh dengan awak-awak yang handal dan profesional. (red).

 

 

Nama Penulis : Viggo Pratama Putra

Jurusan/Universitas : Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara/Universitas Negeri Padang

Jabatan/Posisi : Wakil Presiden WPPSP (Wadah Pejuang Penegak Solusi Politik) dan Staff Ahli Advokasi Kajian Strategis BEM FIS UNP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NONE