Cerita Mahasiswi Kedokteran Nunukan di Tiongkok Pasca Merebaknya Virus Corona

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Virus corona menjadi ancaman serius karena virus ini ternyata bermutasi, dampak dari virus corona wuhan atau 2019-nCov inipun menyebabkan infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas maupun bawah pada manusia dengan tingkat kematian yang berbeda-beda.

Lalu bagaimana nasib para mahasiswa asal Nunukan Kalimantan Utara di Tiongkok? aApakah mereka mendapat perlakuan karantina dan terisolasi akibat merebaknya virus ini? apalagi di hari raya Imlek mayoritas pertokoan tutup bahkan imbas dari kasus ini semua transportasi di stop oleh pemerintah setempat.

Kabarutara.com mencoba menghubungi mahasiswi yang mendapatkan beasiswa Tiongkok, ia bernama Zakia Ayu Alvita Abidin Putri, mahasiswa kedokteran di Hubei Polytekhnic University yang ada di kota Huangshi berjarak 30 menit perjalanan jalur kereta dari Wuhan, dimana virus corona berasal. Hubei merupakan provinsi dari kota Wuhan.

“Perubahannya (pasca corona merebak), di provinsi Hubei sendiri sejauh ini sudah di lock, semua kota yang ada disini, termasuk Huangshi,dan Wuhan pastinya,”tuturnya menginformasikan kondisi terkini di Wuhan.

Vita saat ini tengah berada di Wuhan karena tengah menikmati liburan kampus, namun tak dinyana baru saja tiba di Wuhan, informasi menjalarnya corona membuatnya terisolasi di Wuhan.

Otoritas pemerintah setempat memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap seluruh penduduk, mereka selalu diperiksa suhu panas tubuh oleh tenaga medis, diwajibkan menggunakan masker dan dilarang berkeliaran di jalanan.

“Kita hanya bisa diam di asrama, makan juga gak bisa belanja bahan mentah untuk dimasak, apalagi pertokoan tutup, hari raya Imlek juga, kita hanya bisa membeli makanan di kios kecil seperti roti dan air mineral,”tuturnya.

Vita yang tengah menjalani tahun ke 4 dalam studynya ini mengatakan ada sekitar 30 mahasiswa Kaltara di Hubei, separuh dari mereka tengah berlibur, ada yang berwisata ke kota lain di China dan ada yang pulang ke Indonesia.

Saat ini semua akses transportasi baik bandara, MRT, long bus, train sama sekali stop, tidak ada akses untuk kemanapun sehingga penduduk digambarkan terisolasi.

Memang saat ini, dampak dari virus corona wuhan atau 2019-nCov dengan 49 korban meninggal, belum separah wabah SARS-Cov pada 2003, dimana saat itu sekitar lebih seribu orang meninggal dunia. Namun, sifat virus corona yang mudah sekali berubah secara gen atau bermutasi tanpa bisa ditebak kemana arah mutasinya menjadi ancaman serius bagi kehidupan.

Sejauh ini, mutasi corona diidentifikasi pada hewan perantara yang berbeda-beda, Severe Acute Respiratory Syndrome-related Coronavirus (SARS-CoV) sangat mematikan dan musang dituding sebagai perantaranya. Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) muncul di Arab Saudi pada tahun 2012 dengan unta sebagai perantara.

Dan yang terakhir adalah virus corona yang diidentifikasi Organisasi Kesehatan Dunia dengan nama novel coronavirus (2019-nCoV) di Wuhan sampai saat ini masih diteliti apakah dari kelelawar atau ular sehingga bisa menginfeksi manusia. (KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top