Curhatan Mahasiswi Nunukan Korban Hoaks Dituding Positif Coron

Nunukan

NUNUKAN, SWARAKALTRA.COM – Seorang mahasiswi asal Pulau Sebatik kabupaten Nunukan Kalimantan Utara menumpahkan kekesalannya di media daring facebook karena dituding positif corona.

Nur Fadilah yang merupakan mahasiswi STIE SEBI Depok Jawa Barat diberi label positif Corona oleh media daring bahkan dituding lari dari rumah sakit, sehingga kabar yang tersebar lewat pesan berantai di aplikasi WhatsApp menghebohkan dan sempat membuat panik masyarakat.

“Berita itu menyebar bahkan sebelum aku sampai di RSUD Nunukan, jadi kabar bahwa aku positif Covid-19 itu hasil diagnosa sosial media bukan dokter.”ujar Nur Fadilah seperti yang dia tulis di akun facebook miliknya, Rabu (25/03/2020).

Dalam curhatan tersebut, Nur Fadilah menuturkan riwayat perjalanannya pulang dari Depok. Kota tersebut merupakan kota pertama ditemukannya kasus corona di Indonesia, sehingga siapapun yang bepergian ke atau dari kota tersebut biasanya mendapat perlakuan khusus dalam antisipasi sebaran virus corona.

Kampus yang diliburkan hampir 3 bulan dalam upaya tangkal Covid-19 membuatnya berinisiatif pulang kampung, ia mendapat screening di bandara Soekarno Hatta Cengkareng, begitu pula saat transit di Balikpapan, petugas medis selalu mengarahkan thermoscanner, termasuk saat turun di bandara Juwata Tarakan.

“Turun dari pesawat satu persatu kami disemprot untuk pembersihan, setelah itu mengisi beberapa data diri.”tuturnya.

Perjalanan berlanjut ke pelabuhan speedboat Tarakan, ia tak mendapat tiket Tarakan – Sebatik sehingga membeli rute Tarakan – Nunukan, sampai di pelabuhan PLBL Nunukan ia kembali mendapat perlakuan medis sebagaimana SOP yang seharusnya.

Petugas memberikan wawancara terkait riwayat kesehatan, saat itu ia mengaku 2 minggu sebelum pulang kampung sempat demam, batuk dan flu, dokter mengatakan itu penyakit biasa dan diberikan HAC tanda ia tak terindikasi Covid -19.

“Petugas memberikan kertas berwarna kuning berisi beberapa data. Katanya aku harus diam dirumah selama dua minggu, 24 jam harus pakai masker, tidak boleh ada kontak fisik dengan anggota keluarga, Setelah itu kami bisa langsung pulang.”lanjutnya.

Riwayat perjalanan dari Depok tentu menjadi perhatian khusus tim medis, dokter menelfonnya untuk memastikan kondisi kesehatannya, iapun mengaku tidak kaget karena tim medis telah mengatakan akan memantau keadaannya.

Sampai akhirnya 23 Maret kemarin, dokter kembali menelfon dan mengatakan ia harus ke Nunukan untuk diperiksa lebih lanjut. Ambulans lalu menjemput begitu pula saat sampai di pelabuhan Liem Hie Djung, yang langsung membawanya ke RSUD Nunukan.

Di RSUD, ia dibawa ke gedung isolasi, disana iapun dipasangkan infus, diperiksa kemudian diambil darah.

“Hanya sekitar 2-3 jam saja aku diruang isolasi, setelah itu aku dipindahkan keruang rawat biasa, karna kata dokter aku tidak apa-apa,”katanya.

Ia menyesalkan banyak berita beredar bahwa ia adalah pasien positif Corona dan lari atau menolak dibawa ke rumah sakit, tentu saja ia marah dan khawatir begitu pula keluarganya yang panik dan bingung harus bagaimana menyikapi kabar hoaks tersebut.

Ia meminta netizen bijak dalam bersosial media, jangan pernah menyebarkan info yang belum pasti kebenarannya, karena kabar tersebut pasti menjadi tekanan mental baginya dan keluarganya dan ia berharap kasus seperti ini tak lagi terjadi.

“Aku tau kalian takut terjangkit, tapi apa kalian tau? si pasien jauh lebih takut. Takut seandainya itu benar, ada berapa banyak orang disekitar akan ikut mendapat imbasnya? Aku tau kalian panik, tapi keluarga si pasien jauh lebih panik, bijaklah dalam memilih bacaan,”tegas Nur Fadilah.

Dikonfirmasi kondisi Nur Fadilah, direktur RSUD Nunukan dr.Dulman Sp.Og mengamini bahwa Nur bukan ODP, pasien yang kini dalam perawatan di ruang pasien umum ini mengalami sakit amandel besar sehingga wajar jika mengalami gejala demam.

Dulman menegaskan pasien tersebut masih di RSUD Nunukan karena statusnya Orang Dengan Resiko (ODR)

“Jadi belum ODP, sudah ada pemeriksaan lanjutan di RSUD ternyata demam dan gejala lainnya karena penyakit lain bukan ispa/pneumonia.”jawab Dulman.

Data per 25 Maret 2020, pukul 18.00 WITA, terdapat 3 ODP baru di kabupaten Nunukan, ODP selesai dipantau sebanyak 84 orang, ODP pindah 884 orang, sementara ODP yang masih dipantau sebanyak 36 orang.

Mereka tersebar di sejumlah kecamatan, yaitu, Nunukan 11, Nunukan Selatan 4, Sei nyamuk 1, Seimenggaris 1, Lapri = 1, Krayan Barat 1, Krayan Induk 2, Sebatik Barat 2, Sei Taiwan 3, Tulin Onsoi 1, Mansalong 6, Aji Kuning 3. (KU).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *