Uji Coba Budidaya Padi Ladang Varietas Lokal Barau dan Manap

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) kecamatan Sebuku kabupaten Nunukan Kalimantan Utara kembali melaksanakan ubinan padi ladang varietas lokal jenis Barau dan Manap.

Padi ini diubinkan pada ladang seluas 30 Ha tersebar di beberapa lokasi dan dimiliki Luter dengan tanaman varietas Barau, sementara lahan milik Sukayan ditanami varietas Manap, keduanya merupakan anggota kelompok tani Gitu Baguyo Desa Tetaban kecamatan Sebuku.

Pengubinan dipimpin kepala BPP Sebuku Bajib Misak, SST dan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) juga BPS.

Bajib menjelaskan, tujuan pengubinan adalah untuk mengetahui produktivitas padi ladang perhektar.

“Hasil kebun milik Luter setelah dirontok dan ditimbang dengan berat gabah kering panen 2,4 kg dan rumpun/batang 81 diketahui produktivitasnya 3.8 ton/ha.”ujarnya, Kamis (19/03/2020).

Sedangkan padi ladang milik Sukayan dengan jenis varietas Manap menghasilkan gabah kering panen seberat 2.5 kg dengan 60 batang/rumpun telah diketahui produktivitas 4 ton/ha.

Pengubinan dilakukan di lahan seluas 1 ha dan diambil sample ukuran 2,5 m x 2,5 meter, setelah itu padi dipanen lalu dihitung rumpun tanaman, setelah itu dirontokkan padinya dan ditimbang.

“Padi ladang yang dijadikan sample tidak pernah dipupuk dan tidak tersentuh obat-obatan seperti pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit. Hasilnya cukup memuaskan,”kata Bajib.

Dalam mengambil hasil tanaman padi ladang mereka punya kebiasan sendiri secara turun temurun dengan cara bergotong royong tanpa membayar atau mendapat upah.

Dalam kesempatan ini, kepala desa Tetaban Jonni berharap agar kelompok tani Gitu Baguyo mendapat perhatian khusus dari pemerintah  kabupaten, pemerintah provinsi maupun kementerian pertanian supaya mendapat bantuan seperti mesin perontok padi dan mesin gilingan padi.

“Agar mereka memperluaskan areal tanaman padi ladang dikemudian hari karena selama ini mereka cuma merontok padi dengan cara diinjak-injak, merekapun menanam hanya untuk dikonsumsi keluarga,”lanjutnya.

Ada lebih 30 ha lahan padi ladang di desa Tetaban dengan sistem terpencar tidak satu hamparan, jika memungkinkan pengubinan akan dilakukan menyeluruh sehingga hasil panen bisa meningkat dan petani bisa mendapat rupiah dari hasil lahan mereka. (KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top