Jurnalis Nunukan Bantu Warga, Antara Keprihatinan Dampak Covid-19 dan Carut Marut Data Warga Miskin

Nunukan

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Insan pers di Nunukan Kalimantan Utara melakukan sambang kepada sejumlah warga terdampak covid-19 yang belum pernah menerima bantuan apapun dalam 2 tahun terakhir.

Para pewarta secara suka rela mengumpulkan dana sedikit demi sedikit dengan tujuan memberi bantuan bagi warga terdampak yang hanya bisa bengong melihat tetangga kanan kiri menerima bantuan, entah itu Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Pemerintah Pusat, BLT Dana Desa (DD), ataupun voucher dalam program jaring pengaman sosial,  sementara nama mereka tidak atau belum masuk dalam data manapun padahal kondisi mereka sangat layak menerima bantuan.

‘’Kita sengaja jauh-jauh hari saat corona mewabah mengumpulkan dana sedikit demi sedikit, kita ingin melakukan sebuah hal yang bisa menjadi perhatian Pemerintah terutama dalam masalah pendataan warga miskin dan terdampak,’’ ujar Koordinator aksi Jurnalis Sambang Prihatin Dampak Covid-19 Edy Santry, Jumat (22/05/2020).

Para jurnalis di Nunukan kemudian mengetuk pintu para janda tua, yatim piatu dan manula yang belum mendapatkan bantuan apapun dari program pemerintah, ada kuli bangunan di kampung pisang yang sudah tiga bulan menganggur, hilang pendapatan dengan kondisi wabah corona padahal ia harus membiayai anaknya yang beranjak remaja, ada janda berusia lanjut di Sungai Bilal  yang harus menghidupi banyak cucu, tinggal di rumah bantuan Pemerintah Provinsi Kaltara bahkan tidak didata RT sebagai warga miskin dan tidak pernah mendapat santunan, dan belasan warga lain yang terdampak dan hanya bisa berharap suatu saat ada bantuan pemerintah nyasar ke rumah mereka.

Salah satu jurnalis senior Nunukan Budi Anshori mengatakan, Pemerintah Daerah wajib meluruskan pendataan bagi warga miskin dan menertibkan mekanisme pendataan para RT, di Sungai Bilal bahkan ada satu rumah dengan lima kepala keluarga semua full menerima bantuan, sementara manula, janda dan yatim tak jauh dari lokasi tersebut hanya bisa mengelus dada.

‘’Kita tahu, referensi data miskin untuk Nunukan itu masih mengacu tahun 2005, sudah pasti ini masalah yang harus dibenahi, bagaimana mungkin data tahun itu masih dijadikan rujukan untuk kategori miskin dan terdampak apalagi di tengah pandemic covid19? Sungguh tidak relevan,’’katanya menyayangkan.

Sejumlah insan media lain juga menyayangkan persoalan data yang berimbas pada tidak optimalnya distribusi bantuan yang disalurkan, Muhammad Sabri, Asrin serta Rico Aditya sebagai insan jurnalis Nunukan juga meminta instansi pemerintah melihat ini sebagai perkara serius, data miskin berkaitan dengan hak dan kewajiban Negara yang diatur memelihara mereka, selain menyalahi undang-undang, tentu Pemerintah memiliki beban moral dan tanggung jawab penuh atas adanya masyarakat miskin.

Atas dasar ini juga, sejumlah insan jurnalis Nunukan menginisiasi program sambang jurnalis prihatin covid-19, ada sekitar dua puluh warga sasaran yang sudah ditetapkan menerima bantuan dari hasil urunan insan pers Nunukan, satu keluarga terdampak diberikan 20 kg beras premium, 1 piring telur, 2 kg minyak Goreng, 1 kardus mie instan, 2 toples kue kering, 1 dus  minuman kaleng, baju lebaran dan sedikit uang untuk bekal menyambut hari raya Idulfitri 1441 Hijriah.

‘’Kami berharap, update data segera, tolong jangan nanti-nanti, efeknya sangat besar, silahkan lihat saat mereka membutuhkan di kondisi wabah corona berkelanjutan, mereka punya hak, dan kami bersyukur program teman-teman jurnalis menyalakan kembali harapan mereka menerima bantuan untuk bisa menyambut hari raya,’’kata mereka.(KU).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *