Kisah Pilu, Perjuangan Seorang Ibu Eks Korban Gempa Palu

Nunukan

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Keluarga Nur Aini (40) warga SP I Kecamatan Tulin Onsoi Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara memiliki kisah pilu yang bisa membuat air mata tak terbendung.

Wanita asal Nusa Tenggara Timur ini terpaksa tinggal di sebuah rumah transmigran yang diberikan kepala desa setempat untuk menampungnya, memang saat itu kondisi rumah masih layak dan patut untuk rumah tinggal, namun seiring berjalannya waktu, sekitar 2 tahun kemudian kondisi rumah panggung rendah berstruktur papan tersebut lapuk dimakan usia, lantainya banyak berlubang, dindingnya sebagian ditutup terpal begitu juga bagian atap, sehingga saat hujan deras mengguyur mereka harus mencari tempat agar tak terlalu basah terkena air hujan.

‘’Ibu ini adalah korban gempa Palu 2018 lalu, suaminya meninggal saat itu dan dia pindah ke Tulin Onsoi membawa 2 orang anaknya yang masih berusia 8 tahun dan 6 tahun,’’ tutur salah satu warga, Hikmah Yanti, Sabtu (02/05/2020).

Menjadi single parent di tempat yang baru, terlebih di pedesaan yang merupakan perbatasan RI – Malaysia, tentu menjadi tantangan untuk bertahan hidup, ia melamar kerja di perusahaan sebagai buruh semprot rumput di ladang sawit, untuk menyambung hidup dan membesarkan buah hatinya.

Dari situlah awal perkenalannya dengan laki-laki yang dirasanya bisa memberikan kasih sayang dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Pertemuan tersebut lalu berlanjut di jenjang pernikahan, namun entah karena alasan apa, lelaki yang menikahinya tiba-tiba pergi meninggalkannya dalam kondisi mengandung.

‘’Sebagai seorang ibu yang memiliki beban dengan keberadaan anak, ia menyemprot, tetap bekerja saat hamil besar, tentu hasilnya tidak cukup, kadang makan, kadang juga tidak, untung tetangga sering kasih mereka makan,’’ lanjut Hikmah.

Keadaan tersebut terus berlanjut saat bayi yang dikandungnya lahir, ekonomi yang kekurangan berpengaruh pada pertumbuhan bayi, jangankan untuk membeli susu, untuk makanpun mereka susah.

Si bayi juga terlihat kurus dan kurang gizi, di usia 3 minggu, fisik bayi tak memiliki tanda tumbuh kembang normal, sampai akhirnya, Hikmah Yanti berinisiatif mengumpulkan donasi, mengajak teman-teman akrabnya dan keluarga untuk mengulurkan tangan, ikhlas berbuat atas nama kemanusiaan. Hikmah Yanti yang prihatin akan kondisi keluarga ini, mencoba menggalang dana, mengetuk hati donatur di kecamatan Tulin Onsoi dan mengupload kondisi Nur Aini di media social facebook.

Masyarakat pedesaan meiliki toleransi dan rasa kekeluargaan yang masih tinggi bahkan semangat gotong royong begitu melekat erat, panggilan Hikmah Yanti disambut kontan sejumlah donator, sampai para pelajar Tulin Onsoi ikut peduli dengan urunan sekedarnya untuk membantu keluarga Nur Aini, toko-toko Sembako membungkus paket untuk diberikan, begitu pula masyarakat sekitar, mereka siap menyumbangkan tenaga untuk membantu penderitaan Nur Aini.

‘’Hari ini pak Kades meminta warga menyiapkan rumah untuk ibu Nur Aini, semua kerja bakti membersihkan rumah lebih layak, meski sifatnya dipinjami, semoga kondisi beliau semakin membaik,’’ katanya.(KU).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *