Pdt. Yusa Sakai : Biaya Budidaya Ulat Sutera Ini Sangat Murah

MALINAU, SWARAKALTARA.COM – Setelah mengalami kegagalan selama dua (2) tahun, Pdt. Yusa Sakai tetap semangat melakukan uji coba Budidaya Ulat sutera Singkong Karet, sampai akhirnya berhasil panen Kokon.

“Kegagalan saya bukan pada budidayanya namun lebih pada persoalan membawa bibit dalam bentuk Kokon, berawal tahun 2016 saya berangkat ke Boyolali Jawa Tengah. Disana saya belajar bagaiman cara budidaya ulat sutera pemakan daun singkong karet. Saya berfikir di malinau ini sangat banyak daun singkong karet, dan ini yang membuat saya bersemangat, ungkap Pdt. Yusa Sakai kepada SWARAKALTARA.COM, Sabtu (7/9) di kediamannya Desa Kuala Lapang Kecamatan Malinau Barat Kabupaten Malinau Kalimantan Utara”.

Yusa Sakai yang juga merupakan Ketua kelompok Tani Maranata menjelaskan, pada saat itu Kokon yang saya bawa tidak diperbolehkan ikut karantina pesawat. Akhirnya saya pulang tanpa “bibit” Kokon tersebut. Saya tidak putus asa pas ada kesempatan saya kembali mencoba lagi namun lagi-lagi saya gagal, sampai pada akhirnya saya berhasil membawa Kokon ulat sutera tersebut hingga sekarang Bibit Kokon tersebut sudah bertelaur di malinau dan sudah kelihatan hasil.

Budidaya Ulat sutera ini sangat bisa di sosialisasi secara masal ke masayarakat, yang saya tau petani di malinau ini lebih dominan bertani padi, kenapa tidak kita coba untuk budidaya ulat sutera, ini yang membuat saya lebih dominan melirik untuk budidaya ulat sutera.

“dibanding bertani padi, budidaya ulat sutera ini menurut saya sangat menjanjikan, dalam bentuk kokon Ulat sutera bisa di jual seharga 70 ribu hingga 100 ribu perkilo, lebih lagi jika petani bisa memintalnya hingga dalam bentuk benang ini dapat dijual seharga 500 ribu perkilo dan untuk mencapai hasil hanya dibutuhkan waktu lebih kurang sebulan. Selain dibuat benang sangat memungkinkan diolah menjadi kain, dan sangat bisa di sandingkan dengan program batik malinau, imbuhnya”

Sampai saat ini saya sudah mengajak kelompok tani maranata dan Sekolah Tinggi Theologia Sehati. Ini memang baru tahap pelatihan dan masih di bantu oleh lembaga pembudidaya ulat sutra dari Yogyakarta.

Namun sejauh ini lanjutnya, tanggapan masyarakat sangat merespon budidaya ini. Khususnya teman-teman Pendeta dan menurut mereka ini sangat memungkinkan dilakukan di pelosok untuk pengahasilan masyarakat.

“Saya hanya berfikir untuk memulainya, karena jika tidak ada yang memulai tidak mungkin terjadi. Dan yang perlu diketahui ini yang pertamakalinya di lakukan diluar Yogyakarta, dan Kalimantan baru di malinau.”

Untuk itu saya berharap ada peranan pemerintah sebagaimana dapat mengendalikan usaha – usaha masyarakat seperti ini. Sejauh ini saya sudah coba sampaikan ke dinas – dinas hanya saja masih di anggap budidaya ulat sutera ini memerlukan modal besar, padahal biaya budidaya ulat sutera ini sangat murah dan terjangkau.

Sehingga kembali lagi lanjutnya, saya sangat mengharapkan bantuan atau peranan dan dukungan pemerintah kabupaten malinau, ujar Yusa Sakai. (ezi/sk).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top