37 Tahun Mengabdi Jadi Guru di Nunukan, Husin Manu Tutup Usia Akibat Corona

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Dunia pendidikan Kabupaten Nunukan berduka, sosok teladan bagi para guru-guru di perbatasan RI – Malaysia kabupaten Nunukan Kalimantan Utara Husin Manu meninggalkan kenangan indah dan kesedihan mendalam bagi masyarakat.

Husin Manu terkonfirmasi positif Covid-19 sebelum akhirnya menutup mata untuk selamanya.

Fauziah istri Husin Manu menuturkan, mereka dibawa petugas medis Pemerintah Kota Gorontalo setelah turun dari kapal saat pulang kampung 31 Maret 2020, Husin sekeluarga berniat menetap di kampung halaman Gorontalo menikmati masa pensiun pasca mengabdikan diri menjadi guru di Nunukan selama 37 tahun.

“Bapak sudah meninggal pukul 06.00 pagi tadi” ujarnya terbata-bata sambil menahan tangisan kesedihan, Selasa (21/04/2020).

Fauzia mengatakan, Husin sekeluarga, termasuk 4 anak-anak mereka masuk karantina setelah menjalani 4 hari perjalanan laut. Spesimen swab yang diambil tim medis menunjukkan Husin dan Fauzia istrinya terkonfirmasi positif Covid-19, sementara 4 anak mereka negatif.

Sample swab baru diterima setelah sekitar 1 pekan mereka ada di ruang isolasi Rumah sakit Umum Profesor Aloei Saboe Gorontalo.

“Kemarin terima hasil swab, saya dan bapak positif, Alhamdulillah anak anak negatif” tuturnya.

Husin sebagaimana dikatakan Fauzia, merasakan semua gejala sebagaimana penderita Corona, ia batuk terus menerus, suhu badan panas, sesak nafas dan fisik melemah.

Kenangan terakhir yang paling membekas di benak Fauzia adalah di malam sebelum almarhum menghembuskan nafas terakhir, almarhum yang merasa sangat lemas dan hilang tenaga, memintanya menyuapkan makanan.

Meski Fauzia juga sakit dan merasakan hal yang sama, ia beranjak dari tempat tidur pasien dan memasukkan beberapa suapan.

“Ternyata itu terakhir kami berjumpa, bapak orangnya sangat sabar, 3 minggu dia gak pernah mengeluh, dan akhirnya beliau sekarang sudah tidak ada” katanya serak tanpa mampu lagi menahan air mata.

Jenazah almarhum Husin Manu juga telah dibawa ke pemakaman di Gorontalo, pemakaman sebagaimana protokol pasien Covid-19 dilakukan, tentunya tanpa boleh ada interaksi dengan keluarga besar, hanya mampu disaksikan dari jarak tertentu, cuma air mata yang mengiringi kepergian guru teladan yang juga pernah menjadi ketua PGRI Nunukan ini untuk selamanya.

Saat terakhir kali ia memutuskan untuk meninggalkan Nunukan, almarhum sempat menuliskan status di akun facebook miliknya, ‘Oh Nunukan rumah kedua yang terlanjur kucintai, membuatku sedih saat aku harus beranjak meninggalkanmu’.

“Mohon doakan kesembuhan bagi saya, masih ada anak-anak yang menjadi tanggung jawab saya” kata Fauzia penuh harap.(KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top