Ketersediaan Daging Ayam Broiler Mulai Berkurang di Pasar Nunukan, Ini Sebabnya

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Ketersediaan ayam potong (broiler) di pasar pasar tradisional Nunukan Kalimantan Utara mulai berkurang dibanding hari-hari biasa sebelum terjadi pandemi Covid-19.

Dampak luas corona berimbas pada mahalnya biaya produksi penetasan sehingga peternak lebih berhati-hati dalam memperhitungkan untung rugi, sehingga stock daging ayam mengalami imbas kelangkaan yang berujung pada kenaikan harga.

Di Nunukan, kekurangan stock ayam potong sudah terasa saat memasuki Idulfitri 1441 Hijriyah dan diprediksi akan berlanjut hingga hari raya kurban nanti.

Salah satu pengusaha daging ayam potong sekaligus pemasok Day Old Chicken (DOC) atau bibit ayam potong Jainuddin menjelaskan, kondisi saat ini adalah titik balik akibat over produksi yang berefek daya serap pembelian tidak baik sehingga pengusaha juga tidak mampu maksimal dalam melakukan penjualan.

‘’Pada saat kita mau masukkan DOC kita takut, jangan sampai tidak terjual, perusahaan juga mengatakan efek corona membuat penetasan lebih banyak menghabiskan biaya produksi ketimbang DOC, jadinya tidak ada yang mau beli itu DOC,’’ujarnya, Rabu (17/06/2020).

Selain biaya penetasan yang menjadi pertimbangan pengusaha, ketersediaan transportasi yang terbatas menjadi alasan lain, terkadang untuk memesan DOC, pengusaha harus memastikan jadwal keberangkatan transportasi dan bisakah kapal tersebut memuat DOC yang telah dipesan, yang tentunya biaya transportasi lagi-lagi lebih tinggi dari waktu normal.

Apalagi perusahaan penetasan belum ada di Nunukan, DOC selama ini dipesan dari kota Tarakan, dan sayangnya, di Tarakan keberadaan DOC juga bisa dikatakan kurang. Dalam kondisi normal, harga ayam dibanderol paling tinggi sekitar Rp.25.000 dari kandang, yang berarti ayam hidup, sementara saat ini harga ayam berkisar Rp.26.000 sampai Rp.27.000 per ekor, dan tentunya akan jauh lebih mahal jika sudah sampai pasar.

Biasanya DOC masuk dua kali dalam sepekan, di kala normal, pasokan mencapai 3500 sampai 4000 ekor atau sekitar 7000 ekor tiap pekan.

‘’Saya pesan melalui Tarakan ke Samarinda, di Samarinda hanya menyanggupi 4000 DOC sisanya pesan di perusahaan lain dengan harga lebih tinggi dari perusahaan langganan, itu juga alasan dibalik kelangkaan dan naiknya harga ayam potong di Nunukan,’’jelasnya.

Butuh proses sekitar 35 hari sebelum DOC bisa dipasarkan, rentang waktu demikian panjang menambah daftar alasan mengapa ayam potong semakin naik dan semakin berkurang stocknya di pasaran.

Mengatasi kelangkaan dan ancaman harga tinggi yang ditakutkan minat pembeli akan berkurang, Jainuddin menawarkan alternatif bagi masyarakat yang masih ingin mengkonsumsi ayam.

Jainuddin yang juga merupakan anggota DPRD Nunukan dari Partai Hanura ini berinisiatif menciptakan ayam bumbu kemasan yang tahan sampai 3 bulan tanpa bahan pengawet.

Ayam kemasan bumbu tersebut dibanderol Rp.38.000 dengan bonus tepung Krispy, cara memasaknya cukup praktis dan simple, konsumen tinggal mencampur ayam bumbu ke tepung tersebut lalu menggorengnya.

‘’Harga sama dengan ayam potong tanpa bumbu dalam perkilonya, jadi selain tahan lama, masyarakat masih bisa mengkonsumsi daging ayam meski distribusi DOC kian berkurang dan mengakibatkan kelangkaan di pasaran nantinya,’’kata Jainuddin.(KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top