Nama Tunon Taka Dianggap Hilang Puluhan Masyarakat Adat Tidung Datangi PT.Pelindo

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Puluhan masyarakat adat Tidung Nunukan Kalimantan Utara mendatangi kantor PT.Pelindo memprotes peniadaan nama Tunon Taka pada plang nama Pelabuhan yang telah dipugar.

Sejumlah massa yang mengatas namakan Perkumpulan Suku Asli Kalimantan (PUSAKA) tersebut mempertanyakan nama Tunon Taka yang tidak terpasang pada billboard yang terpajang di gerbang utama dimana selama ini nama itulah yang merupakan ciri khas dan history yang sarat makna.

Humas PUSAKA Sufyan mengatakan, nama Tunon Taka adalah sebuah penghargaan bagi suku setempat, yang menunjukkan pengakuan akan keberadaan suku Tidung sehingga meniadakan nama tersebut sama dengan tidak mengindahkan slogan dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

‘’Sejak awal berdiri Nunukan nama Tunon Taka melekat, bahkan dalam Amdal pelabuhan di tahun 2003 namanya juga tetap Tunon Taka, jangan sekali kali merubah itu karena itu warisan peninggalan leluhur kami yang harus dijaga,’’ujarnya, Senin (15/06/2020).

Sufyan mengatakan, keberadaan suku Tidung sebagai suku pribumi mesti dihargai dengan melestarikan budaya dan semua ciri khas yang ada, penguatan akan tradisi dan adat istiadat bahkan menjadi perintah semua Negara di dunia yang mengakui bahwa warisan budaya adalah kekayaan tak ternilai.

Ia menambahkan, nama Tunon Taka adalah simbol bagi adanya kultur intelektual suku Tidung Nunukan, nama tersebut disematkan beberapa tokoh Tidung yang diharapkan bisa menjadi pengingat dimana tanah yang dipijak saat ini memiliki sejarah nenek moyang suku Tidung yang harus diketahui generasi penerus saat ini.

‘’Itu identitas suatu daerah, kembalikan nama Tunon Taka dan biarkan anak-anak Tidung generasi kami mengerti Nunukan penuh sejarah suku Tidung,’’tegasnya.

PELINDO bersedia menutup nama Port of Nunukan.

Kedatangan puluhan suku Tidung disambut langsung oleh General Manager PT.Pelindo Teguh Firdaus, orang nomor satu di pelabuhan Tunon Taka Nunukan ini mengatakan bahwa pembangunan pelabuhan belum mencapai 100 persen sehingga memungkinkan untuk dilakukan perubahan dengan memenuhi apa yang menjadi sorotan masyarakat adat Tidung

Teguh menjelaskan, pada design awal, tulisan Tunon Taka ditempatkan di titik vital, seperti di taman yang ada air mancur untuk dimanfaatkan swafoto, sehingga publikasi akan ciri Nunukan dikemas lebih soft dan indah.

‘’Design awal tulisan di pelabuhan adalah Port of Nunukan Tunon Taka, jadi Tunon Taka dibawah tulisan itu, tapi dengan permintaan masyarakat, akan kami rubah nantinya menjadi Tunon Taka diatas, dan Port of Nunukan di bawah,’’katanya.

Ada 4 point kesepakatan yang dihasilkan dari mediasi yang dilakukan antara masyarakat adat Tidung dan PT.Pelindo, yang pertama adalah Masyarakat Tidung telah menyepakati adanya tulisan Tunon Taka yang rencananya di sematkan di taman masuk pelabuhan yang menjadi lokasi swafoto, kedua PT.Pelindo bersedia memenuhi tuntutan suku Tidung dengan memasang nama Tunon Taka sebelum huruf Port of Nunukan, ketiga PT.Pelindo juga menyepakati penambahan ornament etniek yang menjadi ciri khas pulau Kalimantan khususnya suku Tidung, dan kesepakatan ke-empat adalah PT.Pelindo akan melihat dulu jenis material tulisan yang terpasang, apabila materialnya mudah diganti, PT.Pelindo secepatnya mengganti tulisan tersebut.

‘’Tapi kalau materialnya susah diganti dan butuh waktu lama, kita akan tutup tulisan itu,’’katanya.

Lebih lanjut, GM Pelindo Nunukan Teguh Firdaus meminta Humas Pusaka agar lebih sering berkomunikasi dan berkoordinasi dengan PT.Pelindo, sehingga persoalan seperti ini tidak harus terjadi.

‘’Kalau intens komunikasi kita yakin semua akan mudah, tapi hikmahnya kejadian ini membuat kita saling mengenal satu sama lain dan semoga bisa menjadikan pelabuhan Tunon Taka lebih maju lagi,’’katanya.(KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top