Dilema Antara BDR dan Tatap Muka Bagi Masyarakat Perbatasan RI – Malaysia

NUNUKAN, SWARAKALTARA. COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mencatatkan nilai survey 35 banding 65 untuk pilihan Belajar Dari Rumah (BDR) atau Belajar Tatap Muka di sekolah bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pinggiran dan terisolir di kecamatan Sembakung, Sembakung Atulai, Lumbis dan lumbis Ogong.

Mayoritas masyarakat perbatasan masih menginginkan anak-anak mereka BDR ketimbang belajar tatap muka di sekolah, alasan status Nunukan masih zona kuning dalam sebaran COVID-19 menjadi salah satu pertimbangan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nunukan H.Junaedi, S.H., mengatakan, alotnya restu orang tua murid di wilayah tersebut juga melihat wilayah tersebut merupakan wilayah perbatasan dengan akses keluar masuk yang tinggi.

‘’Takutnya penularan dari luar wilayah itu terjadi, dan disana orang tua yang tidak setuju belajar tatap muka berdasarkan survey penilaian Dinas Pendidikan, yang tidak setuju 65 persen,’’ujarnya, Jumat (24/07/2020).

Beberapa survey juga menunjukkan fakta lain, dimana beberapa orang yang tidak setuju BDR ada yang merasa repot harus menjaga dan mengawasi anak mereka seharian, sehingga konsentrasi bekerja terganggu.

‘’Akhirnya mereka ingin anaknya segera sekolah, jadi pendapat mereka kalau anak sekolah kan lebih terjaga, bukan karena, katakanlah karena menginginkan anaknya pintar.’’katanya.

Meski demikian adanya, sekolah sekolah di wilayah tersebut juga cukup siap apabila pemerintah menginstruksikan untuk masuk sekolah, terlihat alat cuci tangan portable yang inovatif, mereka tak harus memutar keran cukup menginjak pedal di bawah kran, airpun bisa keluar dengan lancar. Selain higienis, system tersebut sangat direkomendasikan.

Mereka memanfaatkan dana Bantuan operasional Sekolah (BOS) Nasional, demi menerapkan protokol kesehatan dalam mengatasi wabah novel corona virus.

‘’Intinya proses BDR masih menjadi pilihan terbaik, kalau zona hijau dan sudah dibolehkan masuk sekolah normal, pastinya ada perintah dari Bupati dan instansi terkait, tapi pasti bertahap, infonya Agustus akan dimulai secara bertahap, mulai SMP kelas VII dulu, karena mereka siswa baru,’’katanya.

Untuk pola BDR, Dinas Pendidikan menganjurkan para guru bergerilya untuk mengajar door to door, atau membuat kelompok belajar menjadi  beberapa regu dan mereka akan bergantian belajar.

‘’Guru-guru juga punya beban moral atas kondisi ini, sehingga setiap hari mereka datang untuk mengajar, ada yang dari rumah ke rumah atau ke kelompok belajar,’’kata Junaedi.(KU).

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top