Idul Adha Tahun Ini Pasokan Hewan Kurban ke Nunukan Turun Drastis

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Pandemi COVID – 19 berimbas pada pasokan hewan kurban ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Sejauh ini, hewan kurban masih didatangkan dari beberapa daerah di Sulawesi Selatan, masing-masing dari Bone, Sinjai, Pare-Pare, dan Pinrang.

Penanggung jawab kantor karantina Nunukan wilayah kerja Tarakan drh.Budi mengatakan, penurunan mencapai 100 persen jika dibandingkan 2019.

‘’Entah karena musim pandemi atau karena pengaruh ekonomi, yang jelas data 2020 kalau dikatakan menurun, memang turun,’’ujarnya, Selasa (28/07/2020).

Per Juli 2020 tercatat ada 220 ekor hewan ternak, terdiri dari sapi potong sebanyak 142 ekor, kambing 77 ekor, dan kerbau potong 9 ekor. Sementara tahun 2019 tercatat ada 464 ekor.

Dimasa pandemic hewan kurban yang didatangkan ke Nunukan juga wajib menyertakan sertifikat kesehatan dari daerah asal dan keterangan bebas penyakit dari laboratorium setempat, Budi memastikan kesehatan hewan kurban yang masuk Nunukan sudah melalui mekanisme ketat dan pemeriksaan kesehatan sehingga dipastikan layak konsumsi dan semua dalam kondisi sehat.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Nunukan Masniadi mengatakan, kebutuhan daging bagi masyarakat Nunukan secara umum bisa terpenuhi meski dari peternak lokal.

Hanya saja jika merujuk standar nasional, kebutuhan konsumsi daging masyarakat Nunukan hanya mampu bertahan 3 sampai 4 tahun dengan populasi sapi yang saat ini ada.

‘’Kebutuhan daging kita antara 6 sampai 7 ekor perhari untuk kabupaten Nunukan secara umum, sementara jika secara konsumsi maka butuh sekitar 1 ton per minggu,’’katanya.

Saat ini, peternak lokal sudah mulai berani bersaing harga dengan peternak lain, harga sapi lokal saat ini berkisar antara 12 juta sampai 14 juta rupiah untuk ukuran normal dan bisa menembus harga Rp.25 juta dengan ukuran di atas rata rata.

Masyarakat Nunukan juga lebih memilih sapi ras Bali ketimbang sapi jenis lain, selain dagingnya lebih gurih, struktur tulang kecil dengan daging tebal menjadi alasan peternak lokal di Nunukan menjatuhkan pilihan pada sapi Bali.

Alasan lain adalah pemeliharaan tidak terlalu merepotkan, sapi Bali tidak perlu dikandangkan, cukup diangon di lahan kosong yang berumput, sapi Bali juga memiliki imunitas baik dalam hal kesehatan dibanding ras lain.

‘’Dan kita usahakan adanya kawin silang antara sapi Bali dan Brahman, atau Bali dan Limousin, kita perhatikan perkembangan kesehatan sapi dan kita berharap peternak lokal bisa meningkatkan populasi ternak mereka,’’katanya.(KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top