Kisah Veteran Dwikora, Hidup Sebatang Kara dan Mengabdikan Diri di TMP Difilmkan Anak Nunukan

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Tubuh tua nan ringkih dengan segala gambaran akan kerasnya hidup yang dijalani La Arifu, seorang veteran pejuang Dwi Komando Rakyat (Dwikora) digambarkan secara apik dalam film garapan anak Nunukan Kalimantan Utara.

Film bertajuk ‘’Aku Dwikora’’ adalah visualisasi dari kehidupan sosok tua La Arifu, seorang veteran yang menghabiskan masa tuanya di kontrakan kecil di kampung rambutan Nunukan Timur, ia mengisi hari-harinya sebagai tukang sapu di Taman Makam Pahlawan (TMP) Jaya Sakti dan wafat tetap dalam kesendirian.

‘’Banyak konten prank bertebaran garapan millennial, kita prihatin dan mencoba memberi contoh film inspiratif, kita angkat kisah perjuangan veteran yang hidup sebatang kara yang 2015 lalu meninggal tanpa sanak kadang,’’ujar Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Nunukan Amir Tuing, Minggu (16/08/2020).

Amir Tuing yang juga merupakan anak dari salah satu veteran ini, menaruh perhatian lebih terhadap nasib para veteran, ia beranggapan veteran juga merupakan pahlawan yang harus diagungkan karena perjuangan mereka dalam menjaga kedaulatan NKRI dari rongrongan musuh.

Dikisahkan, La Arifu pertama kali ke Nunukan pada tahun 1963, saat itu ia bertolak dari Bau Bau Sulawesi Tenggara dengan niat menjadi TKI ke Malaysia, terjadinya palagan peperangan dalam peristiwa konfrontasi Indonesia-Malaysia yang berujung keluarnya perintah Ganyang Malaysia membuat niat La Arifu batal.

Ia memutuskan untuk bekerja sebagai tukang chain shaw di Nunukan, dalam masa itu La Arifu yang masih berusia 23 tahun kerap melihat banyak orang berbaris dengan seragam hijau memanggul senapan dan memekikkan kemerdekaan.

‘’Ia penasaran kemudian bertanya, ternyata ada pendaftaran sukarelawan untuk kemerdekaan, dia terpanggil dan tanpa fikir panjang mendaftar dan mengikuti segala pelatihan yang ada,’’tutur Amir.

Ditugaskan di Krayan dan sempat salah tembak dengan menjatuhkan pesawat pengangkut pasukan RI.

La Arifu dengan jiwa mudanya yang masih bergelora akhirnya memperoleh misi penempatan di medan tugas wilayah Krayan, area yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia.

Selesai pelatihan militer ala Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL), La Arifu bersama sekitar 90 sukarelawan lain berjalan kaki siang malam dari Nunukan, menuju Malinau sampai Krayan. Perintah yang paling ia sesali saat itu adalah ketika pimpinan tinggi memerintahkan menembak pesawat apapun yang melewati garis perbatasan RI.

‘’Sempat dia ketakutan karena dia bertugas memegang mortir, dia tembakkan ke pesawat yang dia sangka pesawat musuh, untungnya pesawat itu bisa mendarat darurat dan semua penumpang yang merupakan tentara RI berhasil selamat,’’kata Amir menuturkan kembali kisah kisah heroik yang diceritakan La Arifu semasa hidupnya.

Komandan pasukan yang ada dalam pesawat murka atas ketelodoran tersebut, namun meski penembak pesawat dicari cari, tidak ada satupun yang mengaku, sehingga pelaku penembakan tak ditemukan.

‘’Itu pengalaman lucu buat beliau, semasa hidup beliau juga tertawa waktu bercerita itu, dan bangkai pesawatnya masih ada, tinggal puing dimakan usia, di Krayan sana,’’lanjut Amir.

Mengabdikan diri sebagai penjaga TMP Jaya Sakti

Tahun 1967, sukarelawan bubar dan dikembalikan sebagai masyarakat sipil, semasa itu La Arifu juga bertahan hidup dengan bekerja serabutan untuk menyambung hidup.

Ia ngekos dari satu rumah ke rumah lain, dan terakhir kali ia menyewa sebuah rumah di kampung rambutan, di usia senjanya menginjak 73 tahun di 2013, ia memutuskan menjadi penjaga Taman Makam Pahlawan (TMP) Jaya Sakti, di makam ini La Arifu menyapu dan memastikan anak-anak sekitar tak mengganggu keberadaan makam para pahlawan yang mayoritas pejuang KKO AL.

‘’Seluruh kenangannya ada di Nunukan, ia tak ingin pulang sejak 1963, saya rayu agar menengok kampung halaman, beliau akhirnya nurut, tapi tak sampai sebulan beliau kembali ke Nunukan, itu 2013 lalu, padahal di Bau Bau sana masih ada anak cucunya, tapi beliau bilang hidupnya dan kenangannya ada di Nunukan, sejak itu beliau mulai sakit-sakitan.’’katanya.

Memori kenangan semasa menjadi sukarelawan seakan melekat demikian kuat, di setiap tempat yang dulu ia singgahi saat memanggul senapan laras panjang, pasti beliau berdiam cukup lama, mengamati sekitar. Tak jarang ia berhenti cukup lama di tugu Dwikora dan menghormat menunjukkan jiwa dan raganya seluruhnya untuk ibu pertiwi.

Setiap menyelesaikan kerjanya sebagai tukang sapu di TMP, ia pasti berhenti di pinggir pantai tak jauh dari pelabuhan Liem Hie Djung Nunukan untuk memandang pos putih Malaysia, seakan ingin bernostalgia dengan kenangan yang telah ia lewati.

‘’Dari lokasi itu memang jelas nampak sekali pos putih Malaysia tengah laut, beliau selalu melihat itu selepas kerja menjelang maghrib, mungkin ada kenangan tersendiri yang menyisakan ganjalan di hati beliau,’’lanjut Amir.

Wafat dan menyerahkan topi veteran, baju veteran dan bendera merah putih.

Semasa hidupnya, La Arifu sangat dekat dengan Amir yang memang selalu memantau para veteran di Nunukan, ia bercerita bagaimana kisah perjuangan mempertahankan sejengkal tanah NKRI dari intervensi Malaysia, menjelang sakitpun, hanya Amir yang ia cari, sedemikian percayanya La Arifu terhadap sosok Amir, ia terkadang beranggapan Amir adalah anak kandungnya.

Suatu ketika, La Arifu beberapa hari tak nampak di TMP, saat didatangi ternyata ia terkulai lemah di rumah kontrakan, Amir yang panik lalu memanggil ambulans untuk ke IGD RSUD, semangat untuk sembuh menyelamatkan La Arifu dan kekuatannya berangsur pulih.

‘’Saat sembuh ada relawan yang mau mengurus beliau, saat itu bertepatan dengan ibu saya yang sakit, jadi tidak seintens biasanya saya menengok beliau sampai akhirnya sekitar 27 Maret 2015, saya dengar kabar beliau wafat, saya sangat terpukul, tapi Tuhan pasti lebih sayang beliau, semoga tenang disana kek,’’ucap Amir sendu.

Penyesalan amir lebih dalam lagi saat ia menerima kenang-kenangan terakhir dari almarhum yang ternyata topi veteran, baju veteran dan bendera merah putih.

‘’Ingin saya teriak, saya tidak bisa membendung air mata saya lagi, saya akan menjaga pemberian ini, dan bendera merah putih dari beliau akan selalu berkibar, selamat jalan kakek, kita adalah Dwikora’’pekiknya haru.

Film ‘’AKU DWIKORA’’ dibuat dan didedikasikan untuk almarhum La Arifu.

Amir menilai perlu adanya sebuah jalan untuk mengangkat para pejuang dwikora, butuh inovasi agar anak-anak generasi muda menghormati pahlawan dalam dunia nyata, sehingga ia mengumpulkan beberapa temannya untuk membuat film pendek yang dipersembahkan untuk mengenang jasa La Arifu.

Anak-anak muda sekarang dinilai hanya mengejar subscribe, hanya mengejar banyaknya like meski konten video yang dibuat tak mengandung edukasi sama sekali, konten prank justru lebih digemari, tak peduli itu melanggar norma dan etika.

‘’Jadi film ini sekaligus kampanye, Indonesia punya banyak sosok yang perlu dibanggakan, banyak tokoh yang mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan, mengapa tidak mencari tokoh-tokoh itu untuk dipublikasi dari pada hanya sekedar prank sampah? Mari kita bijak dan menunjukkan nasionalisme kita, Dirgahayu RI ke 75, jayalah negeriku, Merdeka !!!.’’teriaknya.(KU).

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top