Pengalaman Bertugas Guru GGD di Krayan, Jalan Kaki Puluhan Kilo Sampai Cerita Mistis Makam Kuno

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Pedalaman Kalimantan Utara menyuguhkan beragam cerita, mulai dari mitos, mistik dan kondisi infrastruktur yang menjadi salah satu kendala dalam beragam aspek, baik pembangunan, pendidikan dan kesehatan.

Salah satu Guru Garis Depan (GGD) yang mendapat tugas penempatan di SDN 003 wilayah perbatasan RI-Malaysia di desa Ba’liku kecamatan Krayan Tengah Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara, Ardianto S.Pd.Gr., juga memiliki pengalaman menarik selama 3 tahun mengajar di pelosok terpencil dataran tinggi Krayan, daerah yang hanya bisa ditempuh menggunakan transportasi udara dari pusat pemerintahan kota Nunukan ini.

‘’Pertama datang jujur saya nangis, GGD ditempatkan sendiri-sendiri setiap sekolah, apalagi mobil belum masuk kesini, jadi saya naik perahu kecil lagi masuk wilayah penempatan, jalanan sangat berlumpur karena hampir tiap malam hujan.’’ujarnya, Minggu (16/08/2020).

Daerah ini belum memiliki fasilitas listrik dari PLN, untuk penerangan warga biasa menggunakan aki atau mesin genset. Rumah dinas berada di tengah desa paling ujung dan terpencil bernama Ba’liku, berjarak sekitar 8 sampai 9 jam perjalanan menggunakan mobil dari pusat pemerintahan kecamatan Krayan.

Pernah suatu ketika Ardianto menuju kota untuk sebuah keperluan, namun mobilnya mogok saat pulang sehingga ia harus berjalan kaki melewati hutan dan sungai.

“Sampai di rumah subuh, untung macetnya tidak begitu jauh, saya jalan kaki malam hari, itu dingin sekali karena cuaca dataran tinggi kan.” Katanya.

Belum lagi Ardianto yang beragama muslim harus pilih-pilih makanan karena mayoritas penduduk loKal tak memiliki pantangan dalam hal makanan.

‘’Saya pernah mengajar di Papua ikut SM3T, tapi gak seperti ini, disana daerah terpencil juga, malah gak ada listrik gak ada signal, tapi jalannya aspal loh,’’katanya.

Sikap penduduk sekitar dan pengalaman mistis di Ba’liku

Saat pertama kali sampai, banyak penduduk ingin melihat dan mengenal lebih dekat dengan Ardianto, namun jangan membayangkan perkenalan ramah dan silaturahmi ke rumah untuk kenalan, mereka melihat apakah guru baru tersebut memiliki kanuragan atau pelindung tak kasat mata.

‘’Ternyata kata mereka saya tak punya isi, jadi tidak jadi di test, seram juga mendengar beberapa penuturan penduduk, setelah akrab, mereka banyak cerita kisah mitos dan mistik.’’tuturnya.

Tak sampai disitu, pernah ia melihat beberapa helai rambut panjang berserakan di lantai kamar yang ia tempati, pada hari pertama ia tak menghiraukan karena menganggap itu adalah sampah yang terbawa angin, namun kejadian terulang sampai 4 hari.

Ia pun mulai tak tenang, tidurnya terganggu dan memikirkan hal-hal yang di luar nalar, apalagi ia tinggal sendirian, meski bertetangga namun jarak dari rumah ke rumah cukup berjauhan.

‘’Kebiasaan saya bangun subuh, setelah salat tarik selimut karena dingin sekali hawanya, begitu bangun membereskan tempat tidur dan menyapu, saya dapati banyak rambut panjang di lantai, saya sendirian, malam gelap gulita, tentu saja ini menyeramkan,’’katanya.

Merasa sangat terganggu, ia menghubungi teman-temannya, disarankan agar mengambil rambut-rambut panjang tersebut sembari membaca sholawat dan ayat kursi lalu dibakar.

Meski sudah melakukan hal itu, di hari kelima rambut-rambut yang biasa berserakan memang tidak lagi terlihat di lantai, tapi menempel di sprei tempat tidur, meski merinding dia tetap mengumpulkan benda tersebut, membacakan ayat suci dan membakarnya.

‘’Alhamdulillah, hari ketujuh hilang dan sampai sekarang sudah tidak ada lagi,’’katanya lega.

Beberapa pengalaman tersebut membuat Ardianto berinisiatif untuk melakukan pendekatan dengan cara menawarkan diri untuk ikut ke sawah membantu pekerjaan mereka, melihat mayoritas penduduk adalah petani akhirnya ia diterima dengan baik.

Berkunjung ke makam leluluhur warga Krayan, Jenazah ditempatkan dalam guci dan ditutup rapat.

Di desa Ba’liku terdapat sebuah makam kuno, kuburan yang ada di tengah hutan tersebut dulunya adalah perkampungan penduduk, namun tidak diketahui mengapa saat ini sudah kosong hanya menyisakan bangunan kayu yang kerap dimanfaatkan penduduk sekitar untuk beristirahat setelah seharian bekerja di sawah.

Makam kuno tersebut merupakan makam nenek moyang warga sekitar, bukan layaknya kuburan biasa, adat masyarakat setempat adalah mempersiapkan guci besar atau tempayan yang muat menampung tubuh manusia dewasa, jasad yang meninggal ditempatkan di dalam tempayan dan ditutup logam berbentuk semacam anglo atau kuali dengan penjepit, ada yang ditutup gong dan beberapa hanya ditutup batu pipih agar tak terganggu binatang buas.

‘’Antara takut dan penasaran saya izin dan meminta penduduk setempat membuka tutup guci, itu isinya tengkorak manusia dan tulang belulang, ada yang kosong karena saking lamanya sehingga dalamnya menyatu dengan tanah,’’lanjut Ardi.

Ini menjadi pengalaman paling mendebarkan, karena penduduk sekitar yang mengajaknya juga terlihat tidak tenang dan sedikit takut karena mengajak orang luar yang notabene bukan warga tempatan melihat isi guci.

Namun meski didesak untuk menjawab perubahan ekspresi itu, warga tak mau memberi tahu, hanya mengajak bergegas keluar dari makam secepatnya dan segera pulang.

‘’Dan sampai sekarang saya belum tahu apakah ada pantangan khusus untuk melihat isi guci atau ada kebijakan lokal yang lain,’’imbuhnya.

Tidak ada daring di SDN 003 Krayan Selatan

SDN 003 Desa Ba’liku kecamatan Krayan Selatan yang ada di kecamatan Krayan Tengah (terjadi pemekaran wilayah namun nama SD belum berubah), hanya memiliki 27 murid dari kelas 2 sampai kelas 6.

Kelas 1 masih kosong karena banyak dari mereka mendaftarkan anaknya namun terkendala usia (belum cukup umur), ada 10 guru di sekolah ini, terdiri dari 6 PNS, 2 guru honor, 1 GGD dan 1 penjaga sekolah. Tidak ada satupun murid yang memiliki handphone, sehingga kebijakan daring tidak berlaku.

‘’Tidak ada daring daringan disini, kita buat posko, disana murid-murid mengambil materi pelajaran, kita jelaskan cara mengisi dan kita jadikan pekerjaan rumah (PR) untuk dikumpulkan dan begitu seterusnya,’’katanya.

Saat ini, Ardianto sudah terbiasa dengan segala suasana dan kebiasaan masyarakat sekitar. Selain pemandangan desa dan oksigen murni, warga desa Ba’liku menyuguhkan suasana keakraban, keharmonisan dan masih mengedepankan gotong royong dalam berbagai aspek, pemandangan langka yang jarang dijumpai di perkotaan.

‘’Dulu saya ingin sekali ke Bali pulau dewata, mungkin Tuhan jawab dengan mengirim saya ke Ba’liku,’’katanya berkelakar.
(KU).

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top