Perjuangan Yuliani, Jadi Buruh Mabettang Demi Beli Smatphone Untuk Belajar Online

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Kisah-kisah perjuangan anak-anak miskin yang berusaha untuk memiliki smartphone (telephone pintar) demi bisa mengikuti belajar Dalam Jaringan (daring) di masa pandemi COVID -19 cukup beragam.

Salah satunya Yuliani (13), pelajar SMP Santo Gabriel Nunukan Kalimantan Utara ini terpaksa ikut ibunya mabettang (mengikat benih rumput laut) karena tidak punya smartphone.

‘’Kemarin bingung karena saya tiada handphone, mama ajaklah ikut bekerja mabettang, sekarang dibelikan sudah sama mamaku,’’tuturnya dengan wajah sumringah saat ditemui di Rt.031 Kampung Timur Nunukan Barat, Kamis (13/08/2020).

Demi memiliki smartphone, Yuliani harus bangun pagi-pagi, ia dan mamanya berkemas setelah menanak nasi dan membuat lauk, mereka kemudian membungkusnya sebagai bekal.

Keduanya lalu menuju pinggir jalan raya menumpang mobil pick up yang sudah disewa secara urunan oleh mayoritas warga Kampung Timur, mereka berangkat pagi dan pulang sore menjelang maghrib.

Jarak yang ditempuh juga tidak dekat, dari kampung Timur menuju kampung rumput laut Nunukan Selatan butuh waktu hampir satu jam perjalanan.

‘’Aku ikut seminggu saja, dalam sehari berdua sama mama dapat 20 bettang, satu bettang digaji Rp.9.000, dari situlah mama belikan handphone,’’lanjutnya.

Saat dijumpai, Yuliani bersama teman-temannya sedang membuka aplikasi belajar daring, meski malu-malu saat wartawan melihatnya mengoperasikan handphone barunya, ia terlihat sangat senang.

Dengan semangat dia memperlihatkan system kerja dan beberapa soal yang ia kerjakan, senyum yang terus mengembang di wajahnya bukan tanpa alasan, karena sekarang ia tidak lagi harus meminjam handphone saudara atau temannya demi mencatat materi pelajaran.

‘’Senanglah, punya hanphone sendiri, hasil kerja sendiri, belajar sudah tenang,’’jawabnya semangat.

Yuliani tinggal di sebuah rumah petak dengan status lahan pinjam pakai, lahan tersebut merupakan milik PT.Jamaker, sejak 2003 sejumlah eks TKI Malaysia atas NTT dan NTB menempati lahan tersebut.

Tercatat ada sekitar lebih 200 KK dengan jumlah jiwa hampir mencapai 600 orang, lebih 100 unit rumah dibangun di atas lahan milik PT.Jamaker dengan luas lebih dari 4 Ha ini.(KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top