Winda Novitasari Tuna Rungu Dari Nunukan Yang Berjuang Untuk Kemandirian Nasib Para Disabilitas

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Anggun dan kalem, kesan pertama saat bertemu Winda Novitasari (25), gadis tuna rungu yang tinggal di Jalan Pong Tiku (Kampung Tator) Kelurahan Nunukan Tengah kabupaten Nunukan Kalimantan Utara ini memiliki impian untuk menjadikan saudara-saudaranya yang senasib bisa mandiri, sekaligus menunjukkan bahwa ketidak sempurnaan bukan halangan dalam memiliki karya.

Winda menekuni dunia desain dan menjahit agar bisa membuktikan keinginan tersebut, setiap penghasilannya ia sisihkan untuk kebutuhan sosial atas dasar keprihatinan. Ia berharap bisa memotivasi kawan-kawannya untuk bangkit dan berjuang bersama mengangkat harkat dan martabat kaum tuna rungu.

‘’Dalam setiap do’a yang dia panjatkan, dia selalu bilang, tidak apa apa saya tuli, tapi Tuhan sudah kasih lebih buat saya, itu sudah lebih dari cukup.’’ujar Barnece (48) ibu dari Winda Novitasari, saat mendampingi anaknya berbincang dengan media ini, Kamis (27/08/2020).

Winda tidak fasih dalam melafalkan kalimat, ia berkomunikasi dengan cara membaca bibir lawan bicara dan harus didukung dengan bahasa isyarat, semangatnya begitu jelas tergambar lewat sorot mata dan antusiasnya saat ibunya mewakilinya menceritakan cita-citanya.

Ia berkali kali mengangguk menguatkan penuturan ibunya, dan sesekali menambahi dengan bahasa isyarat yang kemudian diterjemahkan oleh ibunya.

‘’Dia memiliki sensitivitas tinggi saat melihat teman sesama tuna rungu belum bisa mandiri, itu juga yang membuat dia begitu bersemangat mencari uang agar bisa menjadi contoh yang lain, dia ingin membuktikan tekadnya dengan usahanya,’’lanjut Barnece.

 

 

Kepekaan dan jiwa sosial Winda menghadapi Covid-19.

Sensitivitas Winda kembali ditunjukkan saat pagebluk corona, dia menjahit ribuan masker dan membagikannya langsung ke rumah-rumah yang dirasa membutuhkan. Ia berkeliling membawa masker hasil karyanya untuk warga miskin, setiap masker yang ia bagikan terbungkus dalam plastik, dilengkapi dengan secarik kertas berisi petunjuk bahasa isyarat sembari mengkampanyekan wajib masker selama pandemi Covid-19.

‘’Dia tidak pernah minder, lewat bahasa isyarat dia mengedukasi masyarakat sambil membagikan masker, dia semangat sekali, dia juga membantu sembako ke mereka yang terdampak.’’imbuhnya.

Jauh sebelum masa pandemi Covid-19, Winda bahkan bergerilya dari kampung ke kampung demi mengumpulkan anak penderita tuna rungu untuk dikumpulkan, dia ajak semua ke rumahnya, dan membangun rumah kreatif tuna rungu Nunukan.

Ada sekitar 10 anak yang berhasil dia temui, semua dia ajarkan bagaimana menjahit, menyulam, membuat kerajinan dan mendesain pakaian. Banyak kain bekas menjahit berubah menjadi kerajinan unik, seperti pakaian boneka, merchandise pengantin, juga hiasan rumah dan komoditi berharga lain, botol bekas hingga daun kering bisa dia sulap menjadi kerajinan yang sangat menarik.

‘’Tahun 2017 berdiri rumah kreatif, dia buat ruang tamu menjadi tempat kumpul mereka, namun sekarang mereka sibuk masing-masing, terlebih dukungan dari orang tua mereka tidak ada, jadi sekarang vakum, sayang sekali,’’sesalnya ditanggapi Winda dengan wajah sedih.

 

Karya Winda cukup digemari masyarakat Nunukan.

Winda membuka usaha jahit yang dia namakan Winda Fashion, usaha tersebut berada tidak jauh dari rumahnya, pakaian hasil desain Winda terkenal rapi dan detail karena gadis ini amat menyukai dunia desain dan menjahit sehingga segala yang dia kerjakan harus sempurna menurutnya.

‘’Di kamarnya itu penuh dengan gambar desain baju, dan memang dia banyak mendapat orderan, dia tawarkan lewat media sosial, kebanyakan rancangan dia sendiri,’’tutur Barnece.

Tak sedikit pejabat di Nunukan memesan hasil karya Winda, pesanan yang paling banyak biasanya ketika ada orang yang mau menikah, pihak keluarga biasa mempercayakan model dan warna pakaian untuk keluarga besar calon pengantin kepada Winda.

‘’Jadi dia dalam sebulan bisa menghasilkan sekitar Rp.15 juta dari menjahit, dia sangat mandiri, segala yang dia mau dibelinya dari hasil kerjanya sendiri,’’lanjutnya.

Meski penghasilannya menurun drastis akibat Covid-19, Winda tetap semangat, wajah dan matanya terlihat berbeda ketika ia mencoba bercerita bahwa saat masih SD ia seringkali diejek teman-temannya bahkan tak diterima dengan baik di lingkungan sekolahnya.

‘’Dia hanya diam, saya terus menguatkan dia dan meminta pihak sekolah memperhatikannya secara lebih,’’katanya.

 

Tekad Winda dan usaha untuk mewujudkan cita-citanya.

Sejak kecil, Winda sudah menunjukkan bakat sebagai desainer, saat sekolah Minggu gereja, ia sering meminta kain kain bekas jahit untuk dibuat kerajinan, ia gunting dan ditempel tempelkan pada benda seperti kotak tisu dan lainnya, sampai kelas 2 SD, Winda pernah meraih juara desain antar SD di Nunukan.

Menginjak kelas 5 SD, kepala sekolah meminta orang tua Winda menyekolahkannya di sekolah khusus karena kendala komunikasi, beruntung Barnece masih bisa meyakinkan guru-guru agar menerimanya hingga kelulusan.

‘’Kondisinya sudah begitu sejak lahir, sampai saat SMP saya meminta salah satu sekolah menerima Winda, sampai saya mendapat sekolah yang cocok,’’katanya lagi.

Winda juga pernah dibawa ke Samarinda untuk masuk SLB, namun karena tidak ada klasifikasi khusus, dan di sekolah tersebut kebanyakan orang dengan cacat fisik, Winda protes dan meminta pindah.

Sebenarnya, keluarga Winda sudah berusaha membawanya ke berbagai rumah sakit agar kondisi Winda bisa diatasi, banyak rumah sakit besar mereka datangi, sayang semua tak bisa mengembalikan fungsi pendengaran Winda.

‘’Winda pernah setahun istirahat, tidak sekolah, dia selalu marah, tiap pagi mandi, pakai seragam dan meminta diantar ke sekolah, semangat itu juga yang membuat keluarga terus mencarikan sekolah yang pas,’’tuturnya.

Hingga akhirnya seorang pendeta di Tanjung Selor menganjurkan agar Winda disekolahkan di SLB Dena Upakara Wonosobo Jawa Tengah. Di sekolah ini bakat Winda makin terasah, ia amat menonjol dalam hal desain busana dan jahit menjahit, ketika menamatkan hingga kejuruan 4, ia memutuskan bekerja dan mempraktekkan ilmunya.

‘’Kemandirian saat keluar dari Dena Upakara sudah pasti, attitudenya dia jaga sekali, bahkan dalam hal sepele seperti bagaimana pakaian ketika makan, berbusana tak boleh menampakkan lutut, sampai segitunya dia jaga itu,’’jelasnya.

Sifat tidak mau merepotkan orang lain juga menjadi kebanggaan keluarga Winda, pernah suatu ketika mesin obrasnya rusak, ia tak pernah meminta tolong orang lain, ia membongkar mesin tersebut, memperbaikinya hingga bisa digunakan kembali, semua ia kerjakan sendiri.

 

Harapan Winda dan seruan untuk tuna rungu.

Winda terus berusaha agar tuna rungu diperlakukan sama layaknya masyarakat normal, setiap event pameran ia ikuti, bahkan yang terbaru, Winda mendaftarkan diri sebagai peserta lomba cover lagu bahasa isyarat Bisindo membawa nama Kaltara dalam rangka hari difabel internasional.

Winda dikatakan sangat sibuk mencari spot untuk membuat video klip lagu nasional atau lagu wajib untuk dia tampilkan, beruntungnya, Winda adalah penggiat medsos sehingga dia sangat faham dengan aturan dan ketentuan dalam lomba tersebut.

‘’Intinya dia ingin menunjukkan orang dengan kekurangan sepertinya mampu, itu semacam kampanye dia dan ajakan bagi kawan kawan senasibnya, itu yang membuat keluarga bangga.’’kata Barnece.(mk).

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top