Aktivis Lingkungan di Nunukan Bentangkan Bendera 92 Meter di HLPN Sebagai Aksi Keprihatinan Rusaknya Hutan Lindung

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Memperingati Sumpah Pemuda ke-92 tahun, para komunitas pemuda pecinta alam serta aktivis lingkungan di Nunukan Kalimantan Utara membentangkan bendera merah putih sepanjang 92 meter dengan lebar 3,6 meter di sebuah bukit yang ada di dalam kawasan Hutan Lindung Pulau Nunukan (HLPN), Rabu (28/10/2020).

Lokasi pembentangan bendera sengaja dilakukan di kawasan hutan lindung sebagai bentuk keprihatinan atas kerusakan HLPN. Dari sekitar 2.850 Ha luasan HLPN saat ini, lebih 1000 Ha rusak parah, menjelma kebun sawit dan kaplingan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

‘’Selain menjadi simbol sumpah pemuda ke 92 tahun yang digambarkan dengan panjang bendera yang kita bentangkan, ini menjadi keprihatinan pemuda peduli lingkungan dan kami ingin kerusakan hutan lindung menjadi perhatian semua yang memiliki kewenangan tentang hutan,’’ujar ketua Gerakan Nunukan Hijau (GNH) Hasrul.

Aksi ini sebelumnya melalui diskusi panjang yang dilakukan oleh para aktivis lingkungan dan komunitas pecinta alam di Nunukan seperti The North Borneo Adventure (TNBA), Gerakan Nunukan Hijau (GNH), Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) serta komunitas fotografer Nunukan.

Sambil berkemah, mereka mulai aksi di malam Sumpah Pemuda dengan penamaan bukit yang selama ini menjadi lokasi favorit para pecinta alam Nunukan melakukan hiking dan camping, menjadi bukit 92.

Bukit yang menyajikan view alam yang permai ini juga menjadi salah satu lokasi favorit komunitas fotografer Nunukan.

‘’Kita namakan bukitnya bukit 92, agar nanti menjadi kenangan, dimana para komunitas pecinta lingkungan, bersama Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Dinas Lingkungan Hidup Nunukan berkomitmen untuk mengembalikan fungsi hutan dan terus melakukan reboisasi,’’katanya lagi.

Komitmen tersebut akan ditindak lanjuti dengan sebuah permohonan melalui surat yang akan dikirimkan ke sejumlah stake holder yang memiliki kewenangan penegakan aturan agar perusakan HLPN bisa terhenti dan hutan sebagai penyimpan air bisa kembali berfungsi.

Suara akan lingkungan menjadi sebuah hal urgent karena Nunukan mulai kesulitan mendapat air bersih, hari ini, pulau Nunukan hampir 90 persen bergantung dengan air hujan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.

‘’Kita terus diskusikan bagaimana mengatasi segala persoalan tentang lingkungan, bagaimana mengembalikan fungsi hutan dan sejauh mana para stake holder memiliki kewenangan atas penindakan kerusakan HLPN,’’kata Hasrul.

Upaya penghijauan kembali HLPN yang dilakukan secara massif juga didukung dengan terlaksananya program Hutan Desa yang saat ini tengah dikerjakan pada luasan lahan sekitar 500 hektar lebih juga program Hutan Kemasyarakatan (HKM) yang juga tengah dilakukan kelompok tani hutan Floresta pada lahan seluas 75 hektar.

‘’Mengangkat persoalan lingkungan saat ini adalah waktu yang tepat, dalam logo Sumpah Pemuda 92 tahun, ada sejumlah warna yang semua bermakna alam, biru untuk laut dan hijau untuk hutan, serta warna warni keberagaman. Kita memilih menghijaukan Nunukan kembali dan harapan kami hutan terjaga dari tangan tangan jahil pemilik kepentingan,’’sebutnya.

 

Penegasan bahwa pemuda perbatasan RI sangat nasionalis.

Ketua The North Borneo Adventure (TNBA) Zulkurnain Masri menegaskan, pembentangan bendera 92 meter yang dijahit selama 3 hari dan dihasilkan dari urunan anggota komunitas pecinta lingkungan ini bukan hanya simbol keprihatinan atas kerusakan HLPN, namun sebagai penegasan bahwa pemuda perbatasan memiliki nasionalisme tinggi dan berjiwa patriot.

Sebagai aktivis dan komunitas pecinta lingkungan, seluruh anggota diwajibkan berpartisipasi dalam upaya reboisasi HLPN, diarahkan menjadi para pemuda pecinta lingkungan dan hutan.

‘’Kegiatan positif itu akan menjauhkan generasi muda dari miras dan narkoba yang identik dengan perbatasan, cara komunitas lingkungan ya dengan melakukan penanaman pohon secara massif, gerilya ke warga sekitar hutan untuk memberitahu konsekuensi menebang pohon sembarangan, juga berusaha mengembalikan fungsi HLPN dengan merebut simpati para pemuda dan mengajak sebanyak-banyaknya generasi muda,’’tegasnya.

Peringatan Sumpah Pemuda 2020 dengan tema “Bersatu dan Bangkit” inipun diaplikasikan secara apik oleh para komunitas pecinta lingkungan di Nunukan, dalam upacara pembentangan bendera yang dilakukan di bukit di dalam areal HLPN, sejumlah pemuda mengenakan busana daerah masing-masing.

Zulkurnain menegaskan, wilayah perbatasan dengan segala sesuatu serba terbatas akan terus bangkit dengan kebersamaan dan persatuan. Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda beda namun tetap satu jua, merupakan rumus mutlak yang menjadi dasar kebangkitan pemuda.

‘’PR kita di perbatasan RI masih sangat banyak, masih ada transaksi dua mata uang Ringgit dan Rupiah, masih tinggi ketergantungan sembako dengan Malaysia, dan masih terisolirnya kita dan demikian tertinggalnya kita, semoga terus bangkit dalam kebersamaan dan kekompakan dengan semua elemen sebagaimana semboyan kebhinekaan, dan sebagaimana tema Sumpah Pemuda 92 tahun, Bersatu dan Bangkit.’’pungkasnya.(mk).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top