Menugal, Budaya Dayak Agabag Dalam Berladang

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Petani di Desa Kekayap Kecamatan Sebuku Kabupaten Nunukan menanam padi ladang dengan cara tugal.

Bajib Misak mengatakan menanam padi ladang dengan cara tugal atau dalam bahasa Dayak Agabag (Agasok) merupakan salah satu tradisi masyarakat Dayak dalam berladang yang terus dilakukan hingga saat ini.

“Dilakukan setahun sekali, berkisar bulan September – November karena saat itu musim hujan dan disamping itu untuk menghidari serangan burung pipit ketika padi mulai masak” kata Bajib.

Tradisi menugal mengedepankan budaya gotong royong (Antulun dalam bahasa Agabag) laki-laki terlebih dahulu membuat tugal atau asok dari bahan kayu berbentuk bulat yang ujungnya dibuat runcing terlebih dahulu.

“Ujung kayu tersebut yang digunakan untuk membuat lubang tanam padi ladang  dengan sistem tugal jalan mundur sedangkan perempuan memasukan benih padi ladang dengan jalan maju atara 10-20 butir ke dalam lubamg yang sudah disiapkan.” Jelas Bajib.

Menugal yang dilakukan di Desa Kekayap bertempat di ladang milik Sapan yang merupakan  anggota kelompok tani Siang Luas, adapun jenis bibit yang ditanam terdiri dari varietas lokal yaitu barau, manap, dan mati hidup sebanyak 4 kaleng.

“Jumlah orang yang ikut bergotong royong adalah laki 25 orang perempuan 27 orang dengan luas lahan 1 ha” tutup Bajib.(mk).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top