Anakku: Lebih Baik Tidak Makan Daripada Kehilangan Harga Diri, Harkat dan Martabat Kemanusiaan

Artikel, Ali Mahsun ATMO sejak kecil sudah bekerja membantu ekonomi keluarga yang serba terbatas. Sejak dibangku Madrasah Ibtidaiyah (SD) hingga dibangku kuliah di Fak. Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, mantan penjual krupuk, tahu solet, asongan rokok dan minuman, kuli bangunan, tukang cat mobil, supir angkutan pedesaan, petani, peternak, tukang batu bata merah, tukang service accu bahkan pernah keruk pasir di sungai brantas dikampung halamannya pelosok kampung Ds. Betro Kec Kemlagi Kab Mojokerto Jawa Timur ini pekerja keras, cerdas dan ulet, fokus dan sungguh dilandasi niat tulus dan ikhlas dengan hati murni bersih dan suci selalu berusaha sekuat tenaga kail rezeki halal disertai doa dan tawakkal kepada Tuhan YME Allah SWT. Bahkan tiada terduga ditengah segala keterbatasan biaya kuliah lulus dengan predikat cumlaude dan terbaik FKUB Angkatan 1989.

“Anakku lebih baik tidak makan daripada kehilangan harga diri, harkat dan martabat kemanusiaan. Anakku, dimanapun berada, kapanpun waktunya dan dalam kondisi apapun juga harus selalu dan bersama Tuhan YME Allah SWT. Harus selalu memberikan pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang dan asal usulnya sesuai dengan kemampuan secara ikhlas”, wejangan / wasiat kedua orang tua Ali Mahsun ATMO, Almaghfirullah Alm H. Atmo dan Almh. Hj. Kasi’ah yang menjadi pemicu adrenalin keteguhan ketegaran dan konsistensi Cah Ndeso dr. Ali Mahsun ATMO M. Biomed yang kini emban amanah sebagai Presiden Gumregah Bakti Nusantara (GBN) juga emban Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) yang didedikasikan hanya untuk keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat nusa bangsa dan segenap makhluk yang ada di bumi nusantara mampu rengkuh kembali sebuah negeri adil makmur dan adidaya yang pernah tergapai 700 tahun yang lalu.

Jumat Kliwon sore 20 November 2020 di NYAMAR – Nyate Maranggi Kota Bogor Jawa Barat Ali Mahsun ATMO bakar sate Maranggi seakan sudah menjadi sebuah kebiasaan.

Hidup itu tatkala mampu mengalir laksana air. Tatkala mampu menjalar seperti akar dibawah tanah insyaAllah selalu temukan kebahagiaan sejati, BERMANFAAT BAGI YANG LAIN dimuka bumi. Kita mampu asal mau karena bangsa ini bangsa ayam jago tanah, pungkasnya kepada Pengusaha Milenial Nyate Maranggi – Nyamar Kota Bogor Jawa Barat, Indra Maulana, SAB.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top