Digital Ekonomi itu Pendukung, Bukan Mematikan Ekonomi Rakyat Kecil

Oleh: dr. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed, Presiden Gumregah Bakti Nusantara (GBN)

Pondok Gede, 10 November 2020, Produk petani, nelayan dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) negeri ini menghadapi persoalan sekaligus tantangan yang sangat berat dan kompleks tatkala adanya berbagai upaya pemaksaan ‘one world digital economy’ saat ini dan ke depan. Melalui sistem digital ekonomi (e-commerce) tanpa sekat ruang dan waktu, produk-produk bangsa dan negara asing membanjiri dan mengguyur negeri ini dalam tempo begitu cepat.

Bahkan, saat ini hampir tidak terkendali seakan perlindungan terhadap perekonomian rakyat, perlindungan terhadap produk petani, nelayan dan pelaku UMKM seakan alami kelumpuhan total (totally paralyzed).

Oleh karena itu, pelaku ekonomi rakyat (petani, nelayan dan UMKM) harus mampu maju, berkembang, bersaing dan unggul hadapi era digital ekonomi (e-commerce). Tidak ada jalan lain kecuali harus dilakukan pendampingan kepada mereka dari hulu hingga hilir dengan gerakan ekonomi dari, oleh dan untuk rakyat. Atau lazim disebut sebagai revolusi ekonomi rakyat nusantara, dan dalam tempo secepat-cepatnya diagregasikan dengan revolusi pengusaha dan teknologi nusantara.

Tanpa hal tersebut, lebih-lebih tatkala kebijakan seakan lebih memanjakan digital ekonomi (e-commerce) maka mereka akan gulung tikar. Jika kondisi ini dibiarkan dan betul-betul terjadi maka ratusan juta rakyat dan bangsa ini kehilangan pekerjaan, serta usaha dan ekonominya bangkrut (gulung tikar). Dimana pada ujung dan akhirnya dapat terjadi persoalan sosial dan ekonomi yang sangat berat.

Bahkan seakan kondisi ini, sulit dikendalikan yang sangat membahayakan eksistensi merah putih dan keberlanjutan tata kelola bangsa dan negeri ini. Kenyataan tersebut menjadi special concern, sebagai salah satu misi besar kehadiran Gumregah Bakti Nusantara (GBN) yang harus diwujudkan dalam tempo super cepat dan tepat sasaran. Ini diwujudkan dalam bentuk pendampingan pelaku ekonomi dari hulu hingga hilir sehingga usaha, pekerjaan dan ekonominya maju, berkembang dan unggul, hidupnya sejahtera secara berkeadilan.

Sepesat dan secanggih apapun kemajuan teknologi tetap harus ditempatkan secara proporsional. Hanya sebagai pendukung atau just support system dalam menggapai misi kehidupan dimuka bumi yang sejahtera secara berkeadilan. Teknologi, tidak boleh merongrong atau mengendalikan tata kehidupan. Demikian pula terhadap perekonomian rakyat dan negeri ini.

Lebih daripada itu, kemajuan teknologi juga tidak boleh menggerus tatanan nilai, budaya dan peradaban bangsa dari perjalanan panjang dan mendalam negeri ini. Akar budaya bangsa dan negeri ini adalah kekeluargaan bukan individualisme. Kedepankan kegotong royongan, kebersamaan, kesatuan dan persatuan antar warga bangsa diatas beragam varian perbedaan di negeri ini harus tetap tumbuh subur menjelma dalam tata kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Bahkan seharusnya kondisi ini mampu tumbuh jauh lebih pesat mewarnai dunia dengan dukungan kemajuan teknologi. Demikian pula dalam tata perekonomian rakyat dan bangsa Indonesia. Tetap cinta dan bangga kepada produk-produk rakyat, bangsa dan negerinya sendiri.

Laksana sebuah hunian, Gumregah Bakti Nusantara (GBN) merupakan rumah besar bagi seluruh rakyat dan bangsa kita. Bagi seluruh pelaku ekonomi rakyat, generasi penerus milenial bangsa, serta segenap kekuatan elemen bangsa dengan fondasi dasar Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, satu kesatuan utuh dan menyeluruh diatas beragam varian perbedaaan 750 suku bangsa, tanpa memandang asal muasal dan latar belakangnya yang terpagari secara kokoh dan tangguh.

GBN hadir selalu berada ditengah-tengah segenap pelaku ekonomi rakyat dan generasi penerus milenial bangsa, bersama-sama segenap kekuatan elemen bangsa dan pemangku di negeri ini menghantarkan bangsa ini mampu unggul dengan bangsa lain manapun didunia.

Adalah sebuah realitas yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun bahwa rakyat, bangsa dan negeri ini sangat membutuhkan transformasi kemajuan teknologi sebagai pendukung penggapaian cita-cita besar dan mulia, terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Tuhan YME., Allah SWT.

Menggapai kembali sebuah negeri yang adidaya, namun keberadaan kemajuan teknologi bukan menjadi model terbarukan dari sebuah penjajahan (the very new colonialism). Demikian pula, GBN tidak anti teknologi, juga tidak anti digital economy. Namun harus tetap proporsional. Digital ekonomi itu pendukung ekonomi rakyat dan bangsa ini untuk mampu maju, berkembang dan unggul, bukan mematikan mereka.

Selamat Hari Pahlawan ke-75 (10 November 1945-2020), Pasak Optimisme Kebangkitan Rakyat Hidup Sejahtera Berkeadilan.(red).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top