Empagon 415, “Laboratorium” Perikanan & Konservasi KTT

KTT, SWARAKALTARA.COM–Empagon 415 sekarang telah berkembang  menjadi “laboratorium”  pertanian, perikanan, dan peternakan. Berbagai usaha budi daya dikembangkan secara terpadu di sana. Pada bidang perikanan dikembangkan budi daya ikan air tawar; patin, mas, lele, nila dan jenis-jenis ikan lokal termasuk udang galah. Pada bidang pertanian-perkebunan dikembangkan palawija dan buah-buahan. Kemudian pada bidang peternakan, pengembangbiakan unggas dilakukan di sana.

“Alhamdulillah sekarang sudah lebih berkembang. Perikanan, kami sudah bisa menyuplai bibit ikan air tawar ke berbagai daerah. KTT, Sekatak (Bulungan), Malinau dan Nunukan,” ungkap Agus Iwan Setiawan, perintis sekaligus pemilik Empagon 415 yang berlokasi di Desa Sebidai Kecamatan Sesayap Kabupaten Tana Tidung (KTT).

Empagon 415 sekarang sedang melangkah untuk menjadi  laboratorium konservasi berbagai sumber daya lokal. Semangat ke arah itu muncul setelah Empagon 415 memiliki lahan seluas 10 hektar. Empat tahun lalu hanya memiliki 2 hektare.  “Saya mulai membuka ini tahun 2017. Lahan saya beli dari warga seluas 2 hektar,” terang Agus Iwan.

Nama Empagon diambil Agus Iwan untuk mengabadikan anak sungai kecil yang ada di kawasan tersebut. “Ada anak sungai di sini. Namanya empagon itulah. Mungkin anak-anak sudah tiadak tahu sekarang. Ya saya abadikan jadi nama tempat ini. Angka di belakang itu identitas saya,” kenang PPL yang membina beberapa desa di wilayah Gunung Rian ini.

Pria kelahiran Ciamis, 17 Agustus 1980 ini mulai merintis Empagon 415 dengan membuka kolam pengembangbiakan ikan air tawar. Tidak mudah memang. Agus Iwan harus bekerja keras mengubah hutan menjadi kolam-kolam ikan dan lahan pertanian. “Modal yang saya investasikan sudah besar. Tapi nggak sekaligus. Menyicil,” imbuh Agus. Ia mengaku sudah menggelontorkan anggaran untuk mengembangkan Empagon 415 lebih dari Rp1,5 miliar.

Agus Iwan mem-plot lahan 10 hektar tersebut untuk pengembangan perikanan seluas 3 hektar, perkebunan palawija dan buah-buahan 2 hektar dan 2 hektar yang berupa hutan padat diplot untuk menjadi hutan konservasi. “Yang 2 hektar itu, karena masih hutan alam saya plot untuk dijadikan hutan konservasi kota. Pokoknya semacam hutan itulah,” jelasnya. Ia telah menambah dan memperkaya hutan tersebut dengan menanami bibit pohon rimba, ulin, bengkirai, meranti dan sebagainya. Juga berbagai jenis angrek Kalimantan. “Saya tanam dan saya kembangkan di sana,” sambungnya.

Pengembangan perikanan ia lakukan pada lahan seluas 3 hektar. Pada lahan itu Agus membangun kolam pembibitan dan pembesaran berbagai jenis ikan air tawar. Ikan air tawar lokal yang sudah ia kembangkan antara lain ikan Pelian dan udang galah. Budi daya ikan Pelian dan udang galah berhasil ia lakukan. “Tapi belum produksi untuk ke luar seperti ikan air tawar lainnya,” tambah Agus. Ia memastikan udang galah dapat dikembangbiakan sebagaimana ikan air tawar lainnya dengan baik.

Agus Iwan tertarik untuk lebih fokus mengembangkan udang galah, sebagai salah satu ikon KTT. Ketertarikan tersebut mengingat populasi udang galah di alam liar, Sungai Sesayap, sudah berkurang. Sementara pasar komoditi sungai tersebut sangat tinggi. “KTT punya potensi itu. Dan sangat berpeluang besar. Saya pastikan bisa dibudi dayakan,” terangnya. Selain udang galah, beberapa jenis ikan sungai yang masuk dalam kategori lokal menjadi perhatian Agus Iwan untuk dibudidayakan dengan semangat konservasi.

Popularitas Empagon 415 pun terus meningkat. Semula hanya dikenal di lingkungan KTT. Kemudian di kenal oleh masyarakat di daerah/kabupaten tetangga sebagai pusat pembibitan ikan air tawar dengan kualitas yang terjamin. Tidak hanya itu, masyarakat pun mengenalnya sebagai salah satu tempat untuk hiburan keluarga. Penhobi mincing kerap menjadikan tempat itu sebagai penyalur hobi.  Bahkan kemudian banyak warga yang datang untuk belajar mengembangkan budi daya perikanan dan pertanian dalam arti luas secara terpadu.

“Dari KTT, Sekatak bahkan dari Malinau ada. Mereka ingin tahu dan belajar bagaimana mengembangkan lahan yang potensial untuk dijadikan kawasan budi daya perikanan terpadu,” papar Agus Iwan. Ia menyatakan, Empagon 415 terbuka bagi masyarakat dari mana pun terlebih dari KTT untuk belajar sama-sama menggali dan mengembangkan potensi alam yang dimiliki. Ia sendiri selain menekuni budi daya yang sudah berjalan, juga terus melakukan uji coba budi daya “produk” lokal.

Angan-angan Ekowisata dan Agrowisata

Selain konsisten mengembangkan Empagon 415, Agus Iwan pun punya semangat untuk mengembangkan potensi-potensi alam di wilayah KTT. Yang sudah ia lakukan adalah bersama BUMDes Desa Kujau membangun sebuah Ekowisata. “Master plan-nya, Ekowisata itu semacam Empagon dalam skala yang lebih besar,” jelas Agus Iwan.

Angan-angannya setelah itu, bersama masyarakat Desa Rian adalah mengembangkan Agrowisata untuk menunjang destinasi wisata yang sudah tersedia di sana, yakni Air Terjun Gunung Rian. “Saya tertarik karena saya adalah PPL di sana. Warga di sana adalah binaan saya,” ungkap pria yang akrab dipanggil Kang Iwan ini.

Air Terjun Gunung Rian menjadi salah satu ikon wisata KTT. Tiap bulan apalagi musim libur, ratusan bahkan ribuan pengunjung  datang ke sana. Namun kondisi tersebut belum memberikan dampak ekonomi yang lebih bagi pemerintah dan masyarakat setempat. Harapan Agus Iwan ke depan masyarakat bisa menggali dan mengembangkan potensi alam di sana untuk mendukung destinasi wisata yang ada.

“Bisa dengan membangun Agrowisata. Menyesuaikan dengan potensi di sana. Dikembangkan bersama masyarakat,” harapnya. (nu)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top