Teladan Hidup dari Yusi Arlinda & Komunitas Kumal

“Pandemi Covid-19 Membuatku Kehilangan Semua, Hanya Bakti Kepada Bapak yang Membuatku Semangat’’

 

YUSI ARLINDA tak bisa menyembunyikan dukanya saat mengisahkan kembali perjalanan hidupnya sejak 2016 lalu. Perjalanan hidup yang penuh ujian, yang harus ia hadapi dengan keikhlasan dan ketegaran. Membaktikan hidup untuk orang tua dan keluarga.

Dara berusia 19 tahun asal Nunukaan itu harus ikhlas menyimpan mimpi mudanya;  kuliah demi cita-cita masa depan, setelah ibunya meninggal. Ujian berat yang membuat Yusi sangat berduka. Jiwanya terguncang. Dalam usia yang masih belia, Yusi harus mengambil alih peran seorang ibu di keluarganya.

Kini, ujian kembali harus Yusi hadapi. Ayahnya, Nasution (50) sakit. Yusi hanya sendirian dan harus ikhlas menjadi tulang punggung keluarga, mengambil alih tanggung jawab dan kewajiban ayahnya, yang kini terbaring di tempat tidur.

‘’Waktu ibu meninggal, saya pas lulus SMP. Sekarang saya takut karena tiba- tiba bapak sakit begitu saya tamat SMA. Tidak ada lagi keinginan kuliah atau apapun, tidak terpikir selain merawat dan berusaha mencari biaya pengobatan bapak,’’ujarnya dengan linangan air mata saat ditemui Sabtu (9/1).

Yusi menuturkan bahwa ayahnya didiagnosa mengalami kebocoran jantung. Kondisi ini membuat ayahnya terkikis dan semakin kurus saja. Sehari-hari,  Nasution hanya makan bubur nasi putih. Segala kebutuhan dan keperluannya disiapkan oleh Yusi.

Yusi tidak memiliki keluarga di Nunukan. Gadis  dengan tubuh mungil dan berkaca mata ini sekuat tenaga mencari cara survive dan terus memikirkan bagaimana memperoleh biaya untuk pengobatan ayahnya.

Sejak 5 tahun lalu ia tinggal berdua dengan ayahnya di rumah kontrakan di jalan Pasir Putih Nunukan.

‘’Bapak selama ini hanya penjual sayur keliling, bapak sudah tidak bisa apa apa sekarang, kalau mau ke kamar mandipun harus dipapah, saya sekarang harus mengandalkan diri sendiri membayar uang sewa rumah, mencari uang untuk kami makan,’’ lanjutnya tanpa bisa menahan isak tangis.

 

Pandemi covid-19 menjadi ujian terberat untuk Yusi

Kondisi pandemic Covid-19 sangat terasa menyiksa bagi Yusi. Mencari pekerjaan  sangat sulit sehingga untuk bertahan hidup Yusi mengandalkan belas kasih tetangga. Atau, sesekaimeminta tolong keluarga ibunya di Jombang untuk mengirim uang sekedarnya.

‘’Kami punya keluarga di Jombang Jawa Timur, karena ibu berasal dari sana. Kemarin waktu meninggal karena sakit paru paru, ibu berobat disana dan meninggal, jadi saudara disana yang saya mintai tolon,” ujarnya.

Saat ini, tidak ada lagi sisa uang yang mereka punya. Yusi hanya bisa berdo’a ada keajaiban yang membuat ayahnya bisa sembuh.

Tidak ada lagi semangat untuk kuliah atau untuk sekedar berkhayal bisa menginjakkan kakinya di kampus untuk menimba ilmu Teknologi Informasi Komputer (TIK) yang selama ini ia idam-idamkan.

‘’Tidak berani memikirkan itu (kuliah), cukup bisa bekerja, mengumpulkan uang sedikit sedikit untuk kami bertahan hidup saja, tapi saat ini pandemic covid-19, semua semakin sulit saja. Hanya bapak yang buat saya semangat, harus kuat dan membalas kehidupan yang bapak kasih,’’ katanya.

Yusi kian menunduk saat bercerita tentang kesehariannya mengurus ayahnya. Yusi sadar, baktinya tidak akan cukup membalas apa yang sudah ia terima dari ayahnya.

Mata Yusi sembab dan tidak mampu lagi melanjutkan ceritanya. Apalagi pesan yang paling membuatnya takut adalah saat ayahnya meminta ia bisa mandiri dan bisa menjaga diri.

‘’Pesan itu sangat berarti buat saya. Seakan pesan terakhir.  Saya takut, semoga bakti pada bapak bisa menjadi penghantar kesembuhannya,’’ katanya terputus-putus. Tangis Yusi langsung pecah.

 

Dibantu komunitas ‘Kumal’ Nunukan

Keberuntungan masih berpihak pada Yusi, kegelisahan dan nasibnya terdengar oleh komunitas Kumal, sebuah komunitas yang bergerak di bidang sosial di Nunukan.

Kumal yang memiliki kepanjangan Kuat Makan Malam, memiliki puluhan anggota dari berbagi elemen. Mereka memiliki tim survey dari club sepeda (Gowes) yang digerakan melacak kondisi masyarakat yang butuh bantuan.

Nama Kumal diambil karena mayoritas anggotanya hanya berkumpul dan berembuk untuk melakukan aksi saat malam hari di tempat nongkrong dan warung kopi.

Tidak ada jabatan ketua atau struktur organisasi dalam komunitas ini, namun mereka sangat kompak dan aktif melakukan distribusi bantuan sejak 2014. Tidak terhitung lagi berapa jumlah masyarakat miskin yang mereka bantu.

Bahkan di masa Pandemi Covid-19, komunitas ini kian massif melakukan gerakan social.

Kumal menjadwalkan 3 orang setiap Jumat sebagai penerima bantuan.  Ada Sembako, uang tunai dan kadang renovasi rumah-rumah kayu.

Salah satu koordinator aksi sekaligus anggota Kumal, Ayyub mengatakan, saat komunitasnya mengunjungi keluarga Yusi di rumah kontrakan, tidak terlihat ada barang berharga di rumah sewa tersebut,

‘’Semua dijual untuk keperluan sehari hari dan sedikit membeli obat untuk meringankan sakit ayahnya. Motor untuk jalan sayur ayahnya terjual sudah, kulkas, televisi, tidak ada pokoknya barang berharga, habis terjual. Ini saja uang kontrakan nunggak beberapa bulan,” katanya.

Kumal kemudian memberikan Sembako juga santunan serta membelikan obat yang dibutuhkan Nasution. Tidak hanya itu, Kumal memberikan pekerjaan sementara untuk Yusi, sampai ada pekerjaan dengan penghasilan lumayan nantinya.

‘’Ini salah satu kendala juga, banyak usaha mengurangi karyawan karena pandemic, tapi sementara dia kerja dulu di salah satu café milik anggota Kumal juga, semoga berkahlah,’’ katanya lagi.

Kumal juga berencana meresmikan komunitasnya menjadi yayasan sosial. Mereka melihat banyak sekali masyarakat Nunukan yang perlu uluran tangan terutama di saat pandemic covid-19.

Dari uang iuran seluruh anggota komunitas mereka berupaya memberikan kebutuhan itu.

‘’Bukan tidak mungkin, anak seperti Yusi kita kuliahkan, Kumal sudah cukup lama terbentuk dan kita merasa sudah saatnya ada yayasan khusus untuk menangani kasus sosial,’’ kata Ayyub.

Penulis : Viq

Editor : Yunu WH

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top