120 Ton Barang Kebutuhan Dikirim Malaysia ke Krayan, DPRD Nunukan Meminta WIBI Sabah Membuat Ini Berlanjut

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM–Pemerintah Sabah Negara bagian Malaysia akhirnya mengirimkan 120 ton barang kebutuhan pokok, BBM Industri dan material ke dataran tinggi Krayan Nunukan Kalimantan Utara.
Juru Bicara Pemkab Nunukan Hasan Basri Mursali melalui keterangan tertulis menjelaskan, distribusi dipusatkan di sebuah lapangan dekat Pos Imigrasi wilayah Ba’kelalan, Malaysia, Rabu (10/2/2021).
‘’Ini merupakan bentuk kerjasama Government To Government dengan pola antara Koperasi kedua Negara, RI dan Malaysia, ini adalah wujud dari upaya pemerintah sejak Malaysia menutup akses perbatasan karena Covid – 19 pada 18 Maret 2020,’’ ujarnya.
Kedatangan barang dijemput oleh Sekda Nunukan Servianus bersama aparat gabungan di perbatasan RI – Malaysia.
Setelah melakukan serah terima yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU), iring iringan mobilpun tampak mulai melakukan penjemputan barang untuk dibawa ke Long Midang.
‘’Setiba di Pos Pemeriksaan Satgas Pamtas di Long Midang, petugas satgas Pamtas RI – Malaysia dari Batalyon Arhanud 16 /SBC melakukan pemeriksaan pada barang yang masuk untuk mengantisipasi adanya barang illegal,’’ lanjut Hasan.
Barang barang tersebut kemudian diangkut menuju Pa’ Api Krayan, sebagai titik kumpul barang,
‘’Sebelum diserah terimakan, barang terlebih dahulu dilakukan desinfeksi sebagai langkah tetap protokol kesehatan,’’imbuhnya.
Pemindahan barang dari Ba’kelalan ke Krayan, rencananya kan dilakukan selama 2 hari, selanjutnya, pada Jumat (12/02) barang sudah bisa diserah terimakan dari Pemda Nunukan kepada Koperasi Mitra Utama Kaltara untuk kemudian didistribusi kepada para pedagang dan masyarakat di Krayan.
Turut hadir dalam MoU dan pengantaran barang Malaysia ke Krayan, Timbalan Menteri Pembangunan Luar Bandar Progam II Malaysia Datok Henry Sum Agong yang juga didampingi oleh Residen Daerah Lawas bersama pegawai daerah Lawas.

Anggota DPRD Nunukan dari daerah pemilihan Krayan Welson berharap ada kelanjutan dari kesepakatan ini, selama ini Krayan masih cukup bergantung dengan Malaysia.
Selain lebih dekat dan lebih murah, kultur adat dan budaya mereka secara turun temurun sudah mengakar kuat dan memiliki sejarah panjang di perbatasan RI – Malaysia.
‘’Kemarin yang kami fahami, Wibi (Legislator Malaysia) meminta selalu bersurat kalau mau ada pengiriman barang seperti ini, kami harap tidak perlu serumit itu, kita satu suku, satu budaya, semoga itu jadi pertimbangan wibi di Sarawak,’’katanya.
Welson mengakui, pemerintah sudah cukup berbuat dengan mengatasi persoalan kebutuhan masyarakat di Krayan dengan program Subsidi Ongkos Angkut, serta termasuk program Jembatan Udara yang sudah mulai di Januari 2021 kemarin.
Pemerintah memberikan jatah 82 flight yang dibagi ke Krayan Induk, Krayan Utara, Krayan Barat, Krayan Tengah, dan Krayan Selatan.
‘’Kalau Sembako memang kebutuhan masyararakat tertutupi atau cukup, tapi yang sulit kami dapatkan itu BBM, LPG dan material bangunan, dan lagi kalau hanya 120 ton, melihat konsumtif masyarakat, paling tak sampai sebulan habis,’’katanya.
Sejak perdagangan lintas batas dua daerah bertetangga berhenti karena pemberlakuan karantina wilayah oleh pemerintah Malaysia mulai Juni 2020 tahun kemarin, barang barang kebutuhan mendadak langka dan harganya melambung tinggi.
Bahkan pembangunan rumah ataupun infrastruktur mandek karena kelangkaan dan naiknya harga material bangunan.
Kondisi tersebut diakali pemerintah dengan mendatangkan barang barang dari kota Tarakan, Malinau dan Tanjung Selor, namun tentu dengan harga dua kali lipat dari harga barang Malaysia.
Gula yang biasa dibeli dengan harga Rp.13.000/kg dijual dengan harga Rp.35.000. Semen yang biasa dibeli dengan harga Rp.250.000 per zak, dibanderol sampai Rp.1,3 juta, dan BBM yang tadinya Rp. 13.000 per liter, dibeli dengan harga Rp. 35.000.

Reporter: Viq

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top