Pencemaran Akibat Limbah Tambang KPUC Ancam PDAM

MALINAU, SWARAKALTARA.COM–Limbah tambang batu bara KPUC yang digelontorkan Kolam Tuyak  pasca jebol pada Minggu 909/02) dipastikan akan sampai juga ke Sungai Sesayap, yang menjadi muara Sungai Malinau. Dengan kadar yang berbeda pencemaran akan meluas. Selasa (10/02) limbah sudah sampai ke Desa Batu Kajang, Desa Setarap dan sekitarnya dan menimbulkan keusakat serta kematian habitat sungai.

Jika tidak diantisipasi dengan baik, limbah beracun yang hanyut sudah pasti akan mengancam PDAM Malinau. Sebab salah satu sumber air PDAM Apa Mening ini berasal dari Sungai Sesayap. Instalasi Pengolahan Air (IPA) terbesar milik PDAM bersumber dari Sungai Sesayap di Desa Kuala Lapang Kecamatan Malinau Barat.

Menanggapi kondisi tersebut Direktur PDAM Saiful Bachri  mengungkapkan bahwa hingga Selasa (10/2) pagi kemarin kondisi air Sungai Sesayap masih memungkinkan untuk diolah.

“Karena tertolong oleh air Sungai Mentarang. Tapi bukan berarti air jadi normal. Kualitas air tidak normal hanya masih memungkinkan untuk kami olah. Sampai saat ini, ya,” ungkap Saiful Bachri.

Air Sunggai Mentarang yang juga bermuara di Sungai Sesayap berperan besar mengurai kadar polutan dari Sungai Malinau. Namun demikian, sambung Saiful Bachri, tidak berarti tak ada dampak ke PDAM. Limbah tambang yang larut ke Sungai Sesayap telah mengubah kadar air yang harus diolahnya. Dari semula normal menjadi kurang atau tidak normal. Pada kondisi air tak normal PDAM harus kerja ekstra. Pengolahan air harus ditingkatkan. Penggunaan obat-obatan atau bahan  untuk menetralisir air agar layak konsumsi jadi berlipat, hingga dua-tiga kali lipat.

“Itu resiko yang harus kami hadapi. Biaya produksi meningkat dan jelas berdampak pada peralatan pengolahan air kami,” imbuh Saiful Bachri.

Saiful Bachri tak menutup kemungkinan pihaknya akan menyetop produksi air jika kualitas air Sungai Sesayap sudah tidak bisa lagi ditoleransi.

“Kalau kondisi air sudah sangat buruk, tak dapat ditoleransi maka produksi akan kami stop,” tegasnya.

Saat ini, imbuh Saiful Bachri, pihaknya harus ekstra mengawasi kondisi air yang setiap saat bisa berubah. Sebab setiap perubahan kondisi harus segera diikuti perubahan cara kerja IPA PDM. Tujuannya agar air yang tersalurkan ke konsumen layak pakai. Dengan konsekuensi PDAM kerja ekstra dan mengeluarkan biaya produksi berlipat-lipat.

Yunu WH

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top