Dikerjakan Jauh dari Titik Abrasi, Warga Ancam Boikot Pekerjaan Kontruksi Break Water di Tanjung Aru Pulau Sebatik

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Proyek pekerjaan konstruksi pemecah gelombang/Break water di desa Tanjung Aru kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara dikeluhkan warga.

Pasalnya, proyek yang seharusnya dikerjakan dari titik nol atau tepat di lokasi terparah yang terdampak abrasi, ternyata justru dikerjakan dari titik 700 atau titik akhir.

‘’Memang agak aneh ini kontraktornya, kemarin sudah dibangun dari titik nol sekitar 200an meter. Tapi dengan alasan disitu lumpurnya terlalu dalam, dibongkar lagi itu batunya dan dipindah ke titik 700 yang jauh pemukiman warga,’’ujar anggota DPRD Nunukan Hamsing, Senin (19/4/2021).

Hamsing menyayangkan kondisi tersebut. Seharusnya kontraktor kaliber nasional lebih dulu menghitung dan memperkirakan segala medan sebelum mengerjakan sebuah proyek.

Dijelaskan Hamsing, proyek break water dibangun dengan tujuan mengendalikan abrasi yang menggerus garis pantai. Benteng tersebut nantinya memiliki peran untuk menenangkan gelombang sehingga mampu mencegah abrasi yang saat ini kian luas dan mengancam pemukiman warga.

Yang terjadi, pekerjaan mereka saat ini menimbulkan amarah warga sekitar. Mereka bahkan mengancam akan memboikot pekerjaan tersebut.

‘’Itu yang kita khawatirkan, masyarakat ini kan jenuh menunggu pembangunan. Selama ini banyak yang melihat, mengukur, tapi pembangunan tidak kunjung dilakukan. Sekali dikerjakan, tidak sesuai harapan,’’katanya.

Kepala Desa Tanjung Aru Budiman juga membenarkan bahwa warganya kini tengah dilanda amarah.

Sekian tahun mereka hidup terancam abrasi yang terus menggerus pemukiman dan dikhawatirkan rumah mereka roboh. Namun ketika ada gelontoran anggaran, bukan pemukiman penduduk yang diprioritaskan, melainkan lokasi tanpa penduduk di pesisir Bukit Aru.

‘’Memang ini tidak sesuai kesepakatan. Ini kan proyek lanjutan, kalau kemarin bisa kenapa sekarang tidak bisa dilanjut di titik nol itu? Justru mengambil dari titik akhir, ini kan aneh,’’kata Budiman.

Budiman juga tidak membantah kalau saat ini warga Tanjung Aru sudah ancang ancang untuk melakukan protes terhadap pekerjaan kontraktor break water.

‘’Warga akan menahan kapal ponton mereka. Yang berbahaya itu dampak abrasi di pemukiman kami, sudah berapa banyak rumah hilang dan jalanan hancur. Tapi kenapa yang dibangun jauh dari pemukiman?,’’katanya.

Proyek dengan item Pembangunan break water pantai Tanjung Aru Kepulauan Sebatik ini merupakan proyek lanjutan dari 2018 lalu.

Proyek ini adalah gawean Kemen PU PR yang dikelola Satker SNVT Pelaksanaan Jaringan sumber air WS Sesayap WS Mahakam WS Berau – Kelai provinsi Kaltara.

Kontraktor pelaksana dari proyek bernilai sekitar Rp26 miliar ini adalah PT.Fata Perdana Mandiri dengan alamat jalan Taman Siswa Lr.Tanjong Dsn.Kemuning Gp Merduati Kecamatan Kuta Raja kota Banda Aceh.

Reporter : Viq

swarakaltara

swarakaltara.com portal media online kaltara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.