Surga Tersembunyi di Balik Pesona Budaya dan Alam Suku Punan

MALINAU, SWARAKALTARA.COM – Terdengar nyaring suara ketinting yang membelah sungai Malinau. Sesekali mata dimanjakan dengan satwa liar yang sedang minum di pinggir sungai. Jika beruntung, burung enggang pun kerap terlihat melintas di sepanjang sungai.

Batu-batu di pinggir sungai memberikan kesan alami. Ditambah sungai yang berwarna hijau sebab pantulan pohon yang masih rindang.

Tak mau kalah, seorang juru batu yang menahkodai perahu kayu menunjukkan jalur lintas yang aman. Air yang memuncrat masuk ke dalam perahu dapat memacu adrenalin penumpangnya.

Perjalanan sungai selama delapan jam, terasa singkat. Alih-alih disuguhkan perjalanan macet dengan polusi, perjalanan ini memberikan kesan asri dan damai. Atraksi wisata ini bisa dinikmati selama perjalanan menuju Desa Long Jalan, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara.

Desa Long Jalan merupakan desa yang berada di wilayah paling hulu sungai Malinau, Desa yang juga disebut Desa Puten ini hanya bisa diakses menggunakan ketinting atau biasa dikenal dengan perahu bermotor (Long Boat).

Meskipun aksesnya sulit, tidak sedikit pun memadamkan semangat dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Ekowisata Desa Long Jalan.

Mereka berpartisipasi aktif dalam kegiatan Bimbingan Teknis Pemandu Wisata Alam yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Malinau.

Anye Irang, Ketua KUPS Ekowisata Long Jalan mengatakan, desa Long Jalan memiliki daya tarik kebudayaan Suku Punan yang masih kental. Banyak atraksi wisata budaya yang bisa dinikmati di Desa Long Jalan.

“Kami masih punya kebudayaan sebagai Suku Punan. Seperti cara menghidupkan api menggunakan batu. Kami merasa itu hal yang biasa dalam kebudayaan kami. Tapi, ternyata itu menjadi atraksi wisata yang bisa menarik pengunjung,” katanya, Minggu (28/5/2023).

Senada dengan Anye Irang, salah seorang anggota KUPS Ekowisata Long Jalan, Emianthy menuturkan, selain potensi wisata budaya, Desa Long Jalan juga memiliki kekayaan alam yang bisa dinikmati. Salah satu potensinya ialah masyarakat Suku Punan yang masih memiliki kepercayaan harus melindungi Pan atau air asin.

Air asin adalah tempat minumnya satwa-satwa liar. Jika air asin hilang, maka hewan juga bisa hilang. Mereka juga dilarang membunuh hewan di air asin. Suku Punan percaya jika membunuh hewan di air asin atau hilangnya air asin akan membawa malapetaka.

Diketahui, Air Asin ini memiliki cerita kearifan lokal masyarakat dalam melindungi hutannya. Air asin ini juga ada di desa Long Jalan yang bisa dijadikan potensi wisata alam.

Sementara itu, Nehemia Gurusinga, Pelatih Bimbingan Teknis Pemandu Wisata Alam menjelaskan, untuk menjadi seorang pemandu wisata alam maka dibutuhkan kemampuan interpretasi. Kemampuan ini adalah menghubungkan objek wisata dengan pengunjung.

“Dalam pemanduan wisata harus memastikan enam aspek yaitu aspek promosi Sumber Daya Alam (SDA), keunikan objek wisata, memperhatikan keamanan dan ketertiban pengunjung, kemudian kelestarian potensi SDA, memberikan pengalaman arti pendidikan dan memberikan dampak positif bagi keberlangsungan kegiatan kepariwisataan. Sehingga memberikan pengalaman berkesan bagi wisatawan,” jelasnya.

Selain itu, dari Fasilitator Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Desa Long Jalan, Dodi Ir juga menyampaikan potensi wisata yang ada di desa Long Jalan akan dikembangkan menjadi program wisata alam dan budaya. Hal ini guna meningkatkan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

“Akses sulit menuju Desa Long Jalan, bukan menjadi kendala. Justru ini dapat dilihat menjadi ciri khas yang dimiliki desa Long Jalan. Sebab, sensasi perjalanan selama delapan jam di atas perahu menyusuri sungai Malinau bisa memberikan pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Lalu, wisatawan bisa merasakan hidup berinteraksi langsung bersama masyarakat Suku Punan dalam mengenal budayanya.” pungkasnya.(ag)

Sumber : KKI Warsi Malinau

  • swarakaltara

    swarakaltara.com portal media online kaltara

    Related Posts

    Jalin Silaturahmi, Seluruh Lapisan Masyarakat Hadiri Halal Bihalal Pemkab Malinau

    MALINAU, SWARAKALTARA.COM – Bertempat di Panggung Budaya Padan Liu’ Burung, Pemkab Malinau kembali menggelar acara Halal Bihalal. Acara ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh Pemkab Malinau dalam rangka menjalin…

    Bupati Wempi Lepas 52 Calon Jemaah Haji Malinau Menuju Tanah Suci

    MALINAU, SWARAKALTARA.COM – Sebanyak 52 calon jemaah haji Kabupaten Malinau resmi dilepas oleh Bupati Malinau, Wempi W Mawa, S.E., M.H. Acara pelepasan dilaksanakan di ruang Laga Feratu Kantor Bupati Malinau,…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Mungkin Kamu Melewatkan

    Jalin Silaturahmi, Seluruh Lapisan Masyarakat Hadiri Halal Bihalal Pemkab Malinau

    Jalin Silaturahmi, Seluruh Lapisan Masyarakat Hadiri Halal Bihalal Pemkab Malinau

    Bupati Wempi Lepas 52 Calon Jemaah Haji Malinau Menuju Tanah Suci

    Bupati Wempi Lepas 52 Calon Jemaah Haji Malinau Menuju Tanah Suci

    Terbang ke AS AHY Penuhi undangan Bank Dunia

    Terbang ke AS AHY Penuhi undangan Bank Dunia

    Masyarakat Adat Suku Dayak Tenggalan Malinau Usulkan Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat

    Masyarakat Adat Suku Dayak Tenggalan Malinau Usulkan Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat

    Apresiasi Kegiatan GOW, Bupati Harap Perempuan Malinau Semakin Inspiratif, Kreatif dan Inovatif

    Apresiasi Kegiatan GOW, Bupati Harap Perempuan Malinau Semakin Inspiratif, Kreatif dan Inovatif

    Kepungan Debu Di Area Tambang Sepanjang Pesisir Pantai  Palu Donggala. Jatam Dan Walhi Sulteng Desak Pemerintah Untuk Mengevaluasi Kegiatan Tambang Pasir Dan Batuan

    Kepungan Debu  Di Area Tambang Sepanjang Pesisir Pantai  Palu Donggala. Jatam Dan Walhi Sulteng Desak Pemerintah Untuk Mengevaluasi Kegiatan Tambang Pasir Dan Batuan