Kekeringan, Penampungan Air Baku di Embung Nunukan Hanya Cukup Untuk 15 Hari

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Persediaan air baku untuk pengolahan air bersih di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara hanya tersisa 30 persen dari jumlah normal atau di angka 60.000 M2 dari jumlah aman 200.000 M2.

Dua embung yang selama ini menjadi sumber utama pengolahan air baku masing-masing embung Sei Bilal dengan kapasitas 140.000 M2 dan Embung Sei Bolong dengan kapasitas 200.000 M2 mulai mengalami kekeringan.

Kepala Bidang Tekhnik kantor PDAM Nunukan Sulianto mengatakan, kekeringan terjadi akibat curah hujan yang tak turun sejak sebulan terakhir.

“Faktor alam, jadi pasokannya tidak ada karena 80 sampai 90 persen persediaan air bersih kita mengandalkan hujan, ketersediaan saat ini sekitar 30 persen, perkiraan hanya untuk 15 sampai 20 hari ke depan jika hujan tak turun,”ujarnya, Senin (09/12/2019).

Dalam kondisi normal, ketersediaan air baku di embung Nunukan adalah sekitar 10 meter merujuk pada batasan over flow, namun kini air baku di ukuran 1,5 M2 sehingga apabila hujan tak turun dalam 20 hari kedepan, maka PDAM akan melakukan sistem zonasi untuk sebaran dan pelayanan terhadap sekitar 13.988 pelanggan yang ada di kabupaten Nunukan.

Sejauh ini, PDAM hanya bisa mengolah 60 liter perdetik, turun 30 persen dari angka normal 100 liter perdetik.

“Kita berharap masyarakat bijak dalam penggunaan air, dan berdo’a supaya hujan lekas turun,”kata Sulianto.

Kondisi kritis sementara ini hanya terjadi untuk Nunukan, sementara embung Sebatik masih di angka aman, embung sungai Lapri memiliki instalasi 50.000 M2 sementara pemakaian hanya 35.000 M2.

PDAM Nunukan juga tengah melakukan pembangunan embung Binusan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya RSUD Nunukan, usulan embung Sei Limau Sebatik juga akan menjadi alternatif dalam pemenuhan kebutuhan air bersih yang masih sangat ketergantungan dengan curah hujan. (KU/red).

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top