Jumlah ODP Corona Terus Bertambah, Jalur Masuk Tradisional Perlu Diperketat

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) terus bertambah. Jumlahnya berpotensi naik jika orang tetap berada dalam keramaian sehingga imbauan social distancing, berdiam diri di rumah dan mengurangi aktifitas tak penting terus disuarakan pemerintah.

Di Kabupaten Nunukan kembali ditemukan 15 ODP baru per 23 Maret 2020, sehingga saat ini ODP menjadi 35 orang dari sebelumnya 20 orang. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan masing-masing kecamatan Nunukan 10 orang, Nunukan Selatan 4 orang, Sei nyamuk 2 orang, Seimenggaris 1 orang, Lapri 1 orang, Krayan Barat 1 orang, Krayan Induk 2 orang, Sebatik Barat 2 orang, Sei Taiwan 3 orang, Tulin Onsoi 1 orang, Mansalong 4 orang, Aji Kuning 4 orang.

“Kemungkinan bertambah itu potensinya besar, apalagi jalur perbatasan adalah tempat transit dan persinggahan, kita juga masih punya jalur tradisional yang memang harus diawasi dengan ketat,”ujar juru bicara Tim Gugus Tugas Antisipasi Covid-19 Aris Suyono, Selasa (24/03/2020).

Jalur-jalur tradisional yang biasa digunakan masyarakat memang demikian banyaknya, soliditas dan sinergitas semua instansi mutlak diperlukan dalam upaya mencegat dan memblokade potensi corona masuk Nunukan.

Selain itu, banyak hal yang harus diperhatikan dalam menangkal virus corona, tak boleh banyak membaur di keramaian, dan saat ini sejumlah tempat semacam pasar menjadi fokus TGC dalam melakukan pengawasan dan sosialisasi.

Lokasi keramaian seperti pasar tentu sangat membutuhkan APD. Pemerintah tentunya tak bisa melarang aktifitas pasar karena masyarakat harus memenuhi kebutuhan hidup disana, namun tentu saja butuh regulasi dan pembatasan dalam aktifitas dimaksud.

“Ketergantungan kita ke Malaysia masih tinggi, ketika bahan baku dari sana stop lantaran lockdown, mungkin bisa dilakukan slowdown agar kebutuhan tetap terpenuhi tanpa harus panic buying dan semacamnya,”katanya.

Aris meminta lokasi keramaian yang menjadi pusat bisnis selain pasar, yang masuk kategori bukan basic needs, bukan kebutuhan sehari-hari, dia menyarankan untuk ‘puasa’ selama 14 hari untuk menghindari potensi penyebaran.

“Sekarang ini kemanusiaan yang harus dikedepankan, kita tahu pasti akan memberi dampak, cashflownya, gajinya, pajaknya, tapi ini demi menghentikan wabah corona,”lanjutnya.

Sementara itu, ada sejumlah pasien yang dirawat di RSUD Nunukan (balita) dan fasilitas kesehatan Puskesmas di Sebatik (2 orang yang melakukan kontak dengan penderita corona di undangan walimah di Malaysia), terus dipantau petugas medis.

Saat ini status mereka masih ODP karena untuk naik ke level Pasien Dalam Pengawasan (PDP) butuh swab hasil lab atau foto thorak dengan diagnosa pneumonia, sayangnya pemeriksaan lab butuh waktu tak sebentar, sample akan dikirim ke Surabaya melalui Tarakan, diuji timbang dan harus menyesuaikan jadwal penerbangan pesawat sebagaimana di handle KKP Tarakan.

“Kendala kita masalah pengiriman, tapi itu resiko dan pasien yang kini ditangani RSUD Nunukan tentu akan kami pantau terus perkembangannya, kita masih menunggu hasil swabnya,”katanya.

Untuk memudahkan pelayanan dan pemantauan, TGC Nunukan segera mendirikan pos pengawasan dan pemeriksaan di alun-alun Nunukan atau di lokasi kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPKAD).

“Mungkin besok semua instrumen bekerja disana, silahkan bagi masyarakat yang butuh info atau hendak melapor perkara corona bisa langsung datang ke posko TGC,”kata Aris. (KU).

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top