Kekecewaan Tokoh Krayan Terhadap Penanganan Pasien di Rusunawa

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Tokoh adat masyarakat Krayan kabupaten Nunukan Kalimantan Utara angkat suara terkait penanganan tim medis di tempat karantina rumah susun sederhana (rusunawa) jalan Ujang Dewa Nunukan Selatan.

Sorotan tersebut berawal dari adanya delapan orang masyarakat Krayan yang ditempatkan di tempat karantina, tiga orang diantaranya merupakan petugas medis yang terdeteksi positif covid-19 versi rapid stik.

Mereka mengaku sejak berada di tempat karantina Jumat 24/04/2020 lalu sampai hari ini belum dikunjungi tenaga medis dan tak mendapat obat dengan status mereka yang positif versi rapid stik.

“Saya lihat sendiri, saya melihat kondisi mereka di rusun. Kalau pemerintah tidak siap melayani dan mengurus orang dari Krayan yang ada di sana, sampaikan ke kami supaya kami tahu.” ujar Sekjend Adat Besar Krayan Gat Khaleb, Senin (27/04/2020).

Gat mengaku kecewa dengan perlakuan tim medis, jika seandainya konsep pemerintah soal rusun adalah rumah singgah, Gat meminta ada penjelasan ke masyarakat bahwa tidak ada kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang menginap disitu.

Gat berpendapat, konsep tim gugus tugas keliru soal status rusunawa. Harusnya tempat itu disiapkan oleh gugus tugas sebagai tempat karantina orang dengan dugaan covid-19, dan bukan rumah singgah atau apapun namanya.

Rumah singgah atau karantina, adalah sebuah rumah yang disiapkan khusus dalam rangka penanganan Covid-19. Jadi logika hukum dan sosial serta ekonominya, adalah kewajiban pemerintah dalam hal ini tim gugus yang memenuhi kebutuhan dasar bagi semua orang yang ada di situ.

“Mereka semua masuk ke rusun karena dugaan covid (hasil rapid), bukan pasien biasa. Artinya ada tanggung jawab pemerintah menangani dan memenuhi kebutuhan mereka” tegasnya.

Gat sempat memprotes tidak adanya kunjungan tim medis ke masyarakat Krayan yang ditempatkan sejak Jumat lalu, belum pernah menerima perlakuan medis sebagaimana umumnya suspeck covid-19.

Bahkan ketika Gat mempertanyakan masalah tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan dr.Meinstar Tololiu, Gat mendapat jawaban yang membuatnya marah, karena Kadis Kesehatan menjawab rusunawa hanya rumah singgah sehingga tidak ada kewajiban tim medis mengunjungi mereka di tempat itu.

“Wajar saja jamaah tabligh kabur dan mau bakar rusun karena pemerintah tidak mau urus mereka. Kalau begitu, tutup rusun dan tidak perlu lagi pakai rumah singgah. Biar saja orang keliaran di jalan, bagi duit Rp.600.000 ke orang sehat bisa, kenapa yang sakit diabaikan? ” kata Gat kecewa.(KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top