Lebih 35 Tahun Tidak Diinjeksi Karena Phobia Jarum Suntik, Dirut RSUD Nunukan Mengacungkan Jempol Saat Divaksin

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM–Direktur Utama (Dirut) RSUD Nunukan Kalimantan Utara dr.Dulman tidak mampu menyembunyikan ketegangan dan kepanikannya saat vaksinator menyuntikkan vaksin sinovac, Rabu (3/2/2021).

Wajah orang nomor satu di RSUD Nunukan ini juga terlihat pucat dan beberapa kali mengacungkan jempolnya ke atas sebagai reaksi tidak biasa.

‘’Saya ini orangnya takut jarum kawan, saya dokter memang, tapi namanya manusia, tetap saja ada namanya takut, phobia saya dengan jarum suntik,’’ ujarnya, ditemui pasca injeksi vaksin sinovac.

Dulman tidak membantah bahwa reaksinya yang selalu mengacungkan jempol ke atas, menjadi sugesti untuknya aga pikirannya tidak focus ke pemberian vaksin sinovac.

 

Phobia karena suntikan mantri

Dulman menceritakan, awal mula ia takut jarum suntik ketika ia mengalami insiden kecelakaan saat masih SD.

Kala itu, seorang mantri di kampungnya, masih menggunakan jarum suntik berukuran besar, dan meninggalkan sakit luar biasa.

‘’Saya phobia karena pernah disuntik oleh mantri pakai suntikan jaman dulu. Botol injeksinya dari kaca dan jarumnya waktu itu agak besar dan harus di sterilkan dulu baru dipakai,’’ tuturnya.

‘’Waktu habis disuntik di pantat kanan, saya sempat kesulitan mengangkat tungkai bawah saya, karena sakitnya masih terasa kalau angkat kaki,’’lanjutnya.

Sejak itu, ia selalu menolak suntikan. Anehnya, Dulman hanya takut pada jarum suntik, tidak takut pada jarum bedah.

Pernah suatu kali ia mengalami luka robek pada kulitnya karena sebuah kecelakaan. Luka robek tersebut cukup menganga, dan mengharuskannya dibius untuk menerima jahitan.

‘’Saya memilih dijahit langsung tanpa suntikan anastecy, lebih baik saya tahan sakit sekuat tenaga dari pada disuntik, saya takutnya luar biasa dengan jarum suntik,’’ katanya.

 

Lebih 35 tahun tidak pernah suntik

Dulman mengatakan, bahwa suntikan vaksin hari ini menjadi suntikan pertamanya setelah lebih dari 35 tahun lalu.

‘’Terakhir disuntik masih SD saya, artinya lebih 35 tahun saya baru merasakan jarum suntik lagi, tapi ini demi masyarakat dan kewajiban saya sebagai dokter untuk meyakinkan vaksin sinovac aman dan nyaris tidak ada efek samping,’’ kata Dulman.

Ia juga mengatakan, tidak ada rasa sakit saat mendapat suntikan. Meski ia mencoba focus untuk memikirkan hal lain demi mengusir phobianya di depan vaksinator, namun tetap saja ia masih merasakan jarum tersebut masuk menembus kulit lengan kanannya.

‘’Tidak ada rasa sih, saya fikir vaksinator masih oles oles lengan saya pakai kapas, ternyata sudah selesai, lega sudah rasanya,’’katanya.

Berbeda kasusnya ketika ia melaksanakan tugasnya sebagai dokter, ia tidak merasakan takut sama sekali saat memasangkan infus untuk pasien, ataupun menyuntik mereka.

‘’Beda sekali kawan, beda rasanya, kalau menyuntik itu, focus kita bagaimana supaya pasien lekas sembuh, kalau disuntik, kita sendiri yang rasa, jauh bedalah,’’katanya sambil tertawa.

Kabupaten Nunukan menerima kuota perdana vaksin sinovac, sebanyak 3.640 dosis. Pencanangan vaksin dilaksanakan Rabu 3 Februari 2021, dengan target 1.800 Tenaga Kesehatan (Nakes) di wilayah perbatasan RI – Malaysia ini.

Skema vaksinasi dilakukan dengan sosialisasi jaminan halal dan keamanan vaksin sinovac. Diawali dengan pemberian vaksin kepada Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid, Anggota DPRD Nunukan, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Tokoh Agama, Tokoh Adat, juga Tokoh Masyarakat.

Reporter : Viq

swarakaltara

swarakaltara.com portal media online kaltara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *