Tingkatkan Ketahanan Pangan, Kodim 0910 Malinau Bentuk Satgas Sergab

Tingkatkan Ketahanan Pangan, Kodim 0910 Malinau Bentuk Satgas Sergab

MALINAU, SWARAKALTARA.COM – Demi meningkatkan ketahanan pangan Malinau, Kodim 0910 Malinau bentuk Satuan Tugas (Satgas) Serapan Gabah (Sergab) di Aula Makodim 0910 Malinau, Jumat (16/3).

Pembentukan Satgas Sergab ini dilaksanakan dengan tema, rapat koordinasi bersama tentang serapan gabah dan pembentukan satgas sergab kodim 0910 malinau, dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan di wilayah kabupaten malinau.

Pelaksanaan Rakor ini juga disediakan season tanya jawab dengan mengahdirkan para pembicara yakni Kepala Dinas Pertanian Malinau, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Malinau, Kepala Sub Drive Bulog Tarakan, Direktur Perusahaan Daerah (Perusda) Malinau dan Komandan Kodim (Dandim) sebagai Moderator.

foto pelaksanaan Rakor bersama dan pembentukan Satgas Serapan Gabah (Sergab) Kodim 0910 Malinau, Jumat (16/3). (foto, ezi/sk).

Kodim 0910 Malinau Letkol Kav Yudi Suryatin, S.I.P. M.Si pada sambutannya menjelaskan, pelaksanaan Rakor ini merupakan salah satu even yang kita gagas dalam rangka menindaklanjuti apa yang menjadi intruksi pimpinan kita dan dari pemerintah, sebagaimana kita dapat melaksanakan program swasembada pangan dan seperti yang telah dibahas beberapa waktu lalu di Korem.

“Selanjutnya kegiatan ini, katanya, kita akan sosialisasikan kepada anggota para Kelompok Tani, dalam rangka swasembada pangan sebagaimana mendukung program pemerintah yaitu program Beras Daerah (Rasda) yang dalam hal ini bekerja sama dengan TNI,” ungkap Yudi Suryatin.

Untuk itu perlu adanya penanganan yang kedepanya akan di lakukan oleh petugas Satgas Segab ini.

Satgas Sergab yang telah di bentuk ini maksimal lebih kurang 15 orang, ini juga akan di bantu dengan anggota Babinsa secara keseluruhan lebih kurang 100 orang.

Seperti halnya dibentuknya Satgas Sergab tersebut, bagaimana kita dapat menanggulangi pembelian gabah petani yang mungkin tidak tersentuh oleh jalur perusda, kata lainya kita berharap petani tidak lagi menjual gabah mereka kepada tengkulak.

Adanya satgas sergab ini justru membantu atau mendukung program pemerintah yaitu Beras Daerah (Rasda), ungkapnya.

Lanjut kata dia, Yudi Suryatin, Ini yang menjadi maksud kita bagaimana kita dapat membeli gabah petani, dan memang terdapat perbedaan dalam hal melaksanakan program pemerintah ini, memang tidak semua tempat sama.

“Maksud dan tujuan ini bagus, bagaimana para kelompok tani tidak harus menjual kepada tengkulak, jadi program ini bertujuan menstandarkan harga gabah.

Saya yakin baik dari pemerintah dan bulog pasti ada titik temunya, melalui komunikasi termasuk apa yang akan kita laksanakan ini.

Tetapi kita harus yakin, apa yang menjadi program pemerintah ini merupakan tanggung jawab kita semua, yang mana kita harus dapat solusi masalah pangan ini, harus kita serap dan bahkan kita distribusikan kepada masyarakat, pungkas Yudi Suryatin.

Berkaitan dengan pertanian di kabupaten malinau, yakni dua tahun berturut-turut sejak tahun 2016-2017, percetakan sawah yang dilaksanakan kerja sama antara Kementerian Pertanian dan TNI-AD hingga turun kebawah ke Dinas Pertanian, lahan yang terbuka itu sekitar lebih kurang 500 ha, dan terealisasi pada Desember 2017 sekitar 215 ha, dengan keberadaan lokasi di dua titik yaitu di Desa Malinau Kota dan Malinau Seberang, ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malinau Kristian Munet.

Pada masa tanam tiga tahun 2017, lahan yang tertanam berkisar 67 ha dan masa tanam satu untuk tahun ini belum bisa maksimal, penyebabnya karena lahan yang dikelola tersebut masih dalam masa proses panen.

“Perlu diketahui proses panen di malinau masih menggunakan sistim manual, tidak menggunakan alat dan hanya menggunakan arit, akhirnya yang terjadi masa panen yang dilakukan agak lama.

Selanjutnya kata dia, Kristian Munet, kami ada kegiatan pemetaan lahan sawah yang potensial, dan lahan yang rutin menanam mengikuti pola tanam di kabupaten malinau.

Di malinau sendiri sistem tanam itu terdapat tiga masa tanam, dan biasanya masyarakat malinau menanam di masa tanam 1 dan 3 yaitu bulan 2-3 dan bulan 9-10.

“Dan masyarakat selalunya tidak menanam di masa tanam 2 karena masatanam tersebut sangat tinggi tingkat hamanya, Ungkat Kristian.

Untuk masa tanam 3 pada tahun 2017, dengan luas areal 1336 ha, kami memproduksi lebih kurang 4 ribuan ton gabah dan berdasarkan data petugas PPL di lapangan, terjadi penurunan pada masa tanam 1 tahun 2018 itu berkisar 128 ha.

“Oleh sebab itu kami berupaya membiasakan petani malinau, untuk mengikuti pola tanam 1, 2 dan 3, ini yang menjadi tantangan kami,” pungkas Kristian Munet.

Acara Rakor berlanjut pada sesen tanya jawab, yang di manfaatkan oleh kelompok tani untuk bertanya berkaitan masalah kendala akses jalan tani dan sistem pengairan dilahan persawahan petani.

Dari beberapa pertanyaan petani tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kristian Munet menjawab, berkaitan dengan akses jalan itu akan dilakukan pengecekan di lapangan, apakah masuk dalam program pertanian atau kita akan serahkan ke Dinas PU bidang pengairan, imbuhnya.

“kalau berkaitan dengan pengairan sawah, kami akan melakukan pengadaan pompa air yang akan diperuntukan untuk inpentaris kelompok tani.

Namun, Kristian Munet juga meminta, agar para kelompok tani benar-benar mengelola lahan sawahnya, sehingga apa yang menjadi tujuan pemerintah dapat tercapai, pungkas Kristian Munet. (ezi/sk).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top