Silent Carrier Salah Satu Penyebab Sulitnya Menuntaskan Virus Covid-19

NUNUKAN, SWARAKALTARA.COM – Salah satu alasan sulitnya mengendalikan dan menuntaskan kasus Corona Virus Disease-19 dikarenakan adanya silent carrier, yakni para pengidap Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala.

Akibat tidak memiliki gejala, ia merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa. Padahal, mereka sangat mungkin untuk menularkan virus corona kepada orang-orang di sekitarnya tanpa dapat dikendalikan.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nunukan Kalimantan Utara Aris Suyono mengatakan, Silent carrier atau biasa dikategorikan sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG), memang membawa virus dan menularkannya ke orang lain meski ia tidak terlihat sakit.

‘’Silent carrier memiliki imunitas kuat sehingga virus tidak mempengaruhi dia, tapi dia akan membawa virus tersebut dan tanpa sengaja menularkannya kepada orang lain, simplenya dia adalah orang sehat yang membawa virus untuk orang lain,’’ujarnya, Senin (08/06/2020).

Dengan demikian, untuk mencegah penyebaran wabah yang sulit dikendalikan ini, rekomendasi untuk physical distancing dan melakukan karantina menjadi formula paling tepat. Terlebih bagi mereka yang pernah melakukan kontak dengan pasien positif, mengunjungi negara terinfeksi, atau mengunjungi rumah sakit perawatan COVID-19. Tujuannya agar tingkat infeksi bisa segera menurun dan lebih mudah untuk dikendalikan.

Untuk diketahui alat penguji covid-19 mulai rapid test dan pemeriksaan swab tidak bisa mendeteksi kondisi silent rider, dalam tes apapun, silent rider akan dinyatakan non reaktif, sementara virus yang ada padanya terus hidup dan menginfeksi orang lain.

Tidak ada strategi jitu dalam mencegah masalah ini kecuali dengan menerapkan pola physical distancing, yaitu dengan menjaga jarak fisik. Sementara kontak sosial dengan keluarga atau orang lainnya tetap berlanjut dengan bantuan smartphone dan teknologi baik melalui video call atau aplikasi daring lain.

‘’Karantina diri juga dapat dilakukan selama 14 hari. Dua minggu dikatakan cukup untuk mengetahui apakah seseorang akan menjadi sakit dan menular ke orang lain. karantina direkomendasikan untuk mereka yang diyakini telah terpapar penyakit menular seperti Covid-19, tetapi tidak bergejala.’’jelas Aris.

Perkembangan Kasus Covid-19 di Nunukan mengalami trend kenaikan menggembirakan, dari 43 kasus konfirmasi positif, tercatat 34 pasien sembuh, masih tersisa 9 pasien yang saat ini menempati gedung karantina khusus pemulihan, terdiri dari 5 pasien kluster Gowa, 2 pasien kluster Temboro, 1 pasien kluster Sukabumi, dan 1 pasien lain menjalani isolasi mandiri di kampong nelayan Mansapa. Per 08 Juni 2020, TGC Nunukan mencatatkan ada 16 ODP, 343 OTG dan 4 PDP.(KU).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top